Belum Ada Data Ilmiah Jika Makanan Tertentu Bisa Cegah dan Obati Kanker

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Jumat, 30 Jun 2017 10:46 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Banyak orang menduga konsumsi makanan tertentu bisa mencegah atau mengobati kanker. Tapi peneliti mengungkap hanya sedikit bukti mengenai ini. Klaim ini dianggap keliru.

Profesor Mike Gibney, profesor makanan dan kesehatan dari University College Dublin mengklaim banyak pihak kini 'menjajakan' mitos konsumsi makanan tertentu bisa sebabkan kanker. Secara khusus, klaim ini juga dilabeli pada makanan sebagai 'obat' kanker.

Menurut Prof Gibney, klaim bahwa diet spesifik bisa menyembuhkan kanker adalah pengobatan 'dukun.' Ia menilai hal ini tidak berdasar dan tidak memiliki badan serius untuk menunjukkan data ilmiah terkait. Salah satu contohnya, konsumsi tablet teh hijau dianggap bisa sembuhkan kanker.

Baca Juga : Teh Hijau Bisa Cegah Kanker, Benarkah?

Teh hijau yang diklaim bisa mencegah pertumbuhan kanker.Teh hijau yang diklaim bisa mencegah pertumbuhan kanker. Foto: Thinkstock

Dikutip dari Irish Times (30/6), Prof Gibney yang juga jadi ketua Food Safety Authority of Ireland menyampaikan hal ini saat memberi kuliah umum di Irish Cancer Society. Temanya mengangkat "Diet and Cancer: Separating Facts from Fiction."

Prof Gibney mencontohkan pencetus diet alkalin di Amerika Serikat, Robert O Young harus di penjara karena dianggap melakukan tindakan pengobatan tanpa izin. Ini karena terapi diet alkalin memasukan unsur penggunaan infus soda kue secara intravena untuk mengobati kanker stadium akhir.

Ia melanjutkan, tak hanya masalah klaim makanan sebagai 'obat' kanker yang keliru. Klaim makanan sebagai pencegah kanker juga tak benar. Menurutnya tak ada bukti yang mengarah pada makanan organik, pestisida, makanan modifikasi genetik, dengan aditif atau diolah bisa menyebabkan atau cegah kanker.

Makanan organik yang disebut bisa membantu pencegahan kanker.Makanan organik yang disebut bisa membantu pencegahan kanker. Foto: iStock/Dr Oz

"Begitu juga dengan makanan yang disebut superfood, diet detoks dan organik yang 'dijual' secara khusus pada orang-orang penderita kanker yang sangat rentan," lanjut Prof Gibney.

Dalam kuliahnya ia juga sempat menyinggung pandangan keliru kebanyakan wanita mengenai kanker payudara yang dianggap lebih mematikan dibanding penyakit jantung. Padahal faktanya wanita lebih banyak meninggal akibat penyakit jantung bukan kanker payudara.

"Orang-orang cenderung punya ketakutan irasional terhadap kanker. Pada satu tingkat, kanker adalah kata mematikan, tapi tidak lagi bagi banyak pasien. Stigma tersebut masih terus ada dan mereka menganggap telah melakukan hal keliru sehingga bisa menderita kanker," jelas Prof Gibney.


Baca Juga:Makanan Apa yang Terbaik untuk Penderita Kanker?

Ia mengkritisi soal diet rendah karbohidrat esktrem yang diklaim bisa memperlambat perkembangan kanker dengan mengurangi asupan gula. Nyatanya kanker-lah yang mendorong peningkatan kebutuhan seseorang akan gula. Bukan konsumsi gula banyak yang menyebabkan kanker.

Faktor gaya hidup seperti merokok yang dapat sebabkan kanker.Faktor gaya hidup seperti merokok yang dapat sebabkan kanker. Foto: thinkstock
Mutasi acak dan gen disebut-sebut sebagai 75% penyebab semua kanker. Sisanya lebih kepada faktor lingkungan, paparan sinar matahari, kebiasaan merokok dan gaya hidup (makanan/minum alkohol/aktivitas fisik).

Terakhir, Prof Gibney memberi saran terbaik mengenai asupan makanan dan kanker. "Jaga berat badan yang sehat, perbanyak aktivitas fisik, banyak makan buah dan sayur, dan biji-bijian. Kurangi konsumsi daging tinggi garam dan alkohol. Hindari makanan tinggi lemak," pungkasnya.


(lus/odi)