Saat Sedang Lelah Anda Justru Ingin Makan Junk Food? Ini Sebabnya!

Sonia Permata - detikFood Kamis, 06 Apr 2017 11:25 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Lagi capek tapi justru mengidamkan junk food? Bukan hanya soal lapar dan selera, tapi ada alasannya.

Setiap kali mengerjakan sesuatu atau ketika begadang, sering kali kita menghabiskan makanan ringan seperti biskuit atau keripik kentang lebih banyak dari yang terlihat. Keinginan untuk mengonsumsi jenis makanan manis atau asin, bisa jadi menandakan bahwa Anda memiliki siklus tidur yang tidak sehat.

Siklus tidur yang tidak sehat ini kemudian membuat tubuh menjadi lebih cepat merasa lelah. Ketika lelah tubuh cendrung menginginkan junk food yang terkenal gurih dan lezat. Tetapi jika ditelusuri lebih dalam hal ini dapat mempengaruhi kesehatan terutama jika dikonsumsi terus menerus.

Saat Sedang Lelah Anda Justru Ingin Makan <i>Junk Food</i>? Ini Sebabnya!Foto: iStock

Para peneliti di Feinberg School Of Medicine, Northwestern University di Chicago menyebutkan bahwa efek samping dari kurangnya tidur akan berdampak pada konsumsi makanan tinggi kalori, seperti dikabarkan Independent (05/04/17).

Penelitian ini melibatkan sejumlah peserta yang diatur dalam jam tidur yang berbeda. Mulai dari 8 jam hingga 4 jam. Kemudian penelitian dilanjutkan dengan reaksi peserta terhadap aroma makanan tinggi kalori atau junk food.

Seluruh peserta tidur dalam dua jam tidur yang berbeda selama satu minggu. Setelah itu peserta diberikan beberapa makanan manis dan gurih tinggi akan kalori seperti ragam keripik dan roti cinnamon. Mereka kemudian diminta menilai aroma dari non-makanan seperti pohon cemara.

Saat Sedang Lelah Anda Justru Ingin Makan <i>Junk Food</i>? Ini Sebabnya!Foto: iStock

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang kurang tidur, secara khusus mengalami peningkatan aktivitas otak untuk merespons makanan beraroma dibandingkan dengan mereka yang memiliki jam tidur normal.

Percobaan ini mendukung penelitian bahwa kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan makan berlebih. Hal ini memicu risiko tinggi untuk kenaikan berat badan.

(adr/odi)