Produk makanan seperti minuman soda, susu, dan sereal kerap ditambahkan pemanis buatan. Penelitian sebelumnya menemukan asupan alternatif gula ini ternyata mempengaruhi nafsu makan seseorang dan sebabkan ngidam. Meski begitu, belum ada penelitian yang fokus membahas mengapa hal ini terjadi.
Profesor di Charles Perkins Centre, Universitas Sydney pun melakukan studi komprehensif untuk menjawabnya. Profesor Neely dan rekan mempelajari pengaruh konsumsi pemanis buatan terhadap rasa lapar dari lalat buah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Pada lalat buah, rasa muncul dari lidah ke pusat otak yang mengirim pesan rasa manis. Tetapi kemudian dalam neuron-neuron juga ada pengukuran energi yang mereka terima dan pada dasarnya energi tersebut tidak cocok dengan rasa manis untuk periode jangka panjang," jelas Neely mengenai respon lalat buah terhadap pemanis buatan.
Ia menambahkan, "Otak hewan kemudian menyesuaikan. Rasa manis yang lebih tinggi dari energi sebenarnya membuat otak menginginkan lebih banyak makanan manis." Tak hanya itu, Neely menjelaskan konsumsi pemanis buatan juga sebabkan hiperaktif, insomnia dan penurunan kualitas tidur, serta perilaku terkait keadaan semi-puasa.
Para peneliti lalu mereplikasi studi ini pada tikus. "Kami ingin mengecek dari serangga ke mamalia. Ini menunjukkan respons yang sama bisa terjadi pada manusia, tetapi jauh lebih sulit untuk melakukan studi terkait pada kelompok manusia," jelas Neely.
![]() |
Penelitian tentang pemanis buatan dan efek umumnya terhadap kesehatan manusia telah meyakinkan. Namun hasilnya sering kali bertentangan satu sama lain. Neely mengatakan hal ini sering terjadi karena penelitian bersifat observasional dan membuat hubungan. Bukan membuktikan sebab dan akibat. "Satu hal yang pasti adalah konsumsi terlalu banyak gula, baik buatan atau alami, tidak menyehatkan," tambahnya.
Neely mengatakan penelitiannya merupakan pengingat bahwa pemanis buatan mungkin bebas kalori tetapi tetap mempengaruhi kesehatan tubuh.
"Konsumsi pemanis buatan terbukti berdampak pada otak hewan dan mungkin otak kita. Jika Anda terus menerus memasok kadar kemanisan yang tinggi untuk otak, hal ini mungkin mengubah cara Anda dalam mengatur asupan makanan," pungkas Neely.
(adr/odi)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN