Intoleransi Laktosa Tidak Sama dengan Alergi Protein Susu

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Selasa, 16 Feb 2016 19:15 WIB
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Beberapa orang mengalami efek negatif usai minum susu seperti mual dan muntah. Kondisi ini sering dianggap alergi susu, padahal bisa jadi hanya intoleransi laktosa.

Dalam diskusi media di kawasan Jakarta Selatan (16/02), ahli gizi Emilia Achmadi MS., RD menggarisbawahi perbedaan alergi susu dengan intoleransi laktosa.

"Saya perlu meluruskan keduanya berbeda. Alergi susu merujuk pada kondisi seseorang yang tidak bisa mencerna protein pada susu. Persentase di populasi sangat rendah, mungkin kurang dari 1 persen," ujarnya.

Sementara intoleransi laktosa atau defisiansi laktase berarti kekurangan enzim laktase yang diperlukan untuk mencerna gula susu (laktosa). Meski tak berbahaya, namun gejalanya sering kali membuat penderita merasa tak nyaman.



Untuk kasus alergi susu, Emilia mengatakan tidak ada alternatif selain menghindari konsumsui susu dan produk olahannya. Jikapun ingin mendapat asupan protein dapat meminum susu hidrolisis atau ekstraksi soya dan almond.

Sedangkan penderita intoleransi laktosa dapat mengonsumsi fresh yogurt dan keju natural sebagai alternatif susu. "Laktosa pada kedua produk ini sudah dicerna bakteri sehingga tidak menyebabkan kembung," ujar wanita berkulit bersih ini.



Ia berujar dengan membiasakan konsumsi susu atau produk olahannya secara bertahap, bukan tidak mungkin penderita intoleransi laktosa dapat sembuh. "Tubuh hanya perlu waktu untuk beradaptasi mencerna laktase," terangnya.

Emilia mencatat kondisi alergi protein susu umumnya sudah terjadi sejak kecil, sementara intoleransi laktosa dialami ketika dewasa. "Kalau ada orang dewasa bilang alergi susu sapi tapi masih bisa makan es krim, tandanya bukan alergi tetapi intoleransi laktosa," pungkasnya.

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com