Mi Instan Tetap Aman Jika Dikonsumsi dengan Aturan Ini

Lusiana Mustinda - detikFood Selasa, 08 Des 2015 17:53 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Mi instan menjadi salah satu makanan favorit banyak orang di negara Asia. Kerap kali kita mengonsumsinya sebagai camilan hingga jadi makanan utama ​yang ber​harga murah.

Ketika bencana datang seperti gempa bumi atau banjir, mi instan dikirimkan dalam jumlah besar dalam upaya sebagai bantuan pangan darurat. Menurut laporan yang diterbitkan oleh World Instant Noodles Association, dunia mengonsumsi mi instan sebanyak 102,7 miliar porsi per tahunnya.

Malaysia menjadi penduduk nomor 13 yang konsumsi mi instan sebanyak 1,34 miliar porsi per tahun. China menjadi konsumsi terbanyak dengan 44,4 miliar porsi yang dikonsumsi setiap tahun, diikuti oleh Indonesia, dengan 13,4 miliar porsi per tahun.

Banyak informasi yang menyebutkan mi instan bisa berakibat buruk untuk kesehatan. Akan tetapi Dr Tee E Siong, selaku president dari Nutrition Society dari Malaysia tidak mengatakan seperti itu.

Foto: Thinkstock


"Banyak orang berpikir, makan mi instan adalah beracun dan juga berbahaya. Tapi ini tidak sepenuhnya benar. Karena beberapa orang terlalu sering untuk mengonsumsinya hingga lima kali sehari, ini yang tidak baik,” tutur Tee.

"Ini sama halnya dengan makan roti. Tidak membuat Anda gemuk, kecuali jika setiap hari Anda konsumsi," tambahnya.

Mi instan mengandung karbohidrat dan lemak serta sedikit protein, serat, mineral dan vitamin. Sehingga harus bergantian dengan makanan lain untuk mendapatkan diet yang seimbang.

"Makan oatmeal atau sereal saat sarapan memang bisa jadi pilihan sehat. Tapi jika Anda ingin mengonsumsi mi instan, Anda perlu menambahkan sayuran segar, telur, daging cincang atau sarden agar lebih sehat. Hanya butuh tambahan tiga menit untuk mempersiapkan menu makanan lengkap," tambah ahli gizi asal Malaysia ini.

Foto: Thinkstock


Bahan utama mi kering adalah tepung terigu, minyak sawit dan garam. Sedangkan bumbunya terbuat dari garam, monosodium glutamat (MSG) dan gula. Dr Tee, tidak yakin mengapa MSG telah menimbulkan banyak persepsi negatif.

"Jika Anda melihat Badan Pengawas Makanan di dunia, tidak ada yang melarang MSG. Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan MSG buruk bagi kesehatan. Jepang telah menggunakannya selama berabad-abad dan mereka tetap sehat. Penggunaan MSG tentunya harus diguankan secara bijaksana. MSG sebenarnya tidak memiliki rasa, ini hanya penambah rasa dan memiliki kandungan natrium yang lebih rendah dari garam," ujar Tee dalam Star 2 (02/12).

Makan mie instan sesekali boleh saja, moderasi adalah kunci untuk kesehatan yang lebih baik. Jika berlebih tentu akan timbulkan masalah kesehatan, seperti obesitas.

Dr Tee mengatakan, "Saya menemukan banyak orang Malaysia cenderung berlebihan dengan hal yang mereka sukai. Penelitian saya 15 tahun yang lalu menunjukkan bahwa obesitas biasanya diidap oleh orang kaya, tetapi sekarang tren berbalik. Semakin rendah penghasilan, tampaknya lebih berisiko menderita dengan penyakit menular.”

(lus/odi)