Para peneliti dari Wageningen UR Food and Biobased Research di Belanda, University of Natural Resources and Life Sciences di Austria serta VTT Tecnical Research Center Finlandia meneliti tiga kelompok respon emosional yang terdiri dari 24 peserta.
Dalam studi ditemukan bahwa yoghurt dengan buah-buahan yang berbeda di dalamnya tidak mempengaruhi suasana hati para peserta.
"Kami terkejut saat menemukan bahwa dengan mengukur emosi, kita bisa mendapatkan informasi tentang produk yang independen. Informasi seperti ini bisa sangat berharga untuk produsen," tutur Dr Jozina Mojet dari Food and Biobased Research.
Studi menggunakan taktik yang berbeda untuk mengukur respon emosional peserta, termasuk metode penelitian baru yang dikenal dengan tes proyeksi emotif. Cara ini dilakukan untuk menentukan apa efek yoghurt bisa merubah suasana hati seseorang atua tidak.
Seperti yang dilansir dalam Daily Mail (11/11/15), para peneliti menunjukkan foto orang lain pada peserta dan kemudian meminta mereka untuk menilai orang-orang dengan enam kalimat positif dan negatif. Menurut penelitian, orang memproyeksikan emosi mereka kepada orang lain, sehingga suasana hati mereka dapat ditunjukkan melalui penilaian mereka dari orang lain.
Tiga kelompok peserta kemudian diberi yoghurt dengan merek sama, meskipun memiliki rasa yang berbeda. Kemudian para peneliti mengukur emosi peserta dengan menggunakan empat metode, termasuk tes proyeksi emotif.
Para peneliti juga menetapkan bahwa tidak ada perbedaan dalam respon peserta untuk yoghurt dengan rasa nanas atau strawberry, meskipun versi lemak rendah menyebabkan mereka memiliki respon yang lebih positif.
Tapi hal yang paling mengejutkan menurut tim peneliti adalah ketika vanila dan yoghurt dicampurkan, ada tanggapan positif yang sangat kuat dari para peserta. Ini mendukung bukti sebelumnya bahwa aroma vanili di ruang tunggu rumah sakit dan tempat-tempat lain yang berhubungan dengan stres tinggi dapat mengurangi agresi dan mendorong hubungan positif antar staf dan pasien.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa metode respon emosi baru ini bisa digunakan sebagai cara efektif untuk mengumpulkan informasi tentang suatu produk sebelum ia membelinya.
"Kami sedang mencari metode yang valid, cepat dan tidak terlalu mahal serta memakan waktu untuk mengukur emosi atau perubahan mood yang ditimbulkan oleh makanan. Saya sangat percaya bahwa penelitian sensorik dan konsumen harus dilakukan dengan cara yang ekologis valid," tambah Dr Mojet.
(adr/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN