Diet Bebas Gluten Terbukti Tidak Pengaruhi Gangguan Perilaku Anak Autis

Diet Bebas Gluten Terbukti Tidak Pengaruhi Gangguan Perilaku Anak Autis

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Selasa, 15 Sep 2015 13:02 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Diet bebas gluten dan kasein dikabarkan dapat memperbaiki gangguan perilaku pada anak autis. Namun temuan peneliti di Universitas Rochester ​justru membuktikan sebaliknya.​

Para peneliti di University of Rochester Medical Center menemukan diet bebas gluten dan kasein tidak menyembuhkan gangguan perilaku pada anak autis. Ini berarti anak autis boleh mengonsumsi gandum atau susu karena keduanya tidak akan memperburuk gangguan perilaku yang dialaminya.

Para dokter dan terapis kesehatan mengatakan banyak keluarga dengan anak autis melakukan terapi yang belum terbukti kemanjurannya. Termasuk membatasi asupan gluten dan kasein yang dipercaya dapat memperbaiki gangguan perilaku anak mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dr Susan Hyman dari University of Rochester's Kirch Developmental Services Center melaporkan 400 anak autis dari total 1.200 anak yang berobat ke kliniknya menjalani diet bebas gluten dan bebas kasein. Mereka tidak mengonsumsi gandum dan produk susu.

Cara ini dianggap dapat menghindarkan anak autis dari gangguan perilaku dan rasa tidak nyaman lainnya karena mereka tidak mencerna protein gluten.

Para dokter khawatir dengan fenomena tersebut. Pasalnya anak autis yang menjalani diet bebas gluten dan kasein rawan kekurangan zat gizi penting seperti kalsium dan vitamin D. Diet ini juga akan membatasi asupan makanan anak autis mengingat mereka sudah cenderung memilih-milih makanan alias picky eaters.

Untuk membuktikan apakah diet bebas gluten dan kasein dapat memperbaiki gangguan perilaku anak autis, Dr Hyman dan timnya melibatkan 14 anak berusia 3-5 tahun. Mereka menjalani diet tersebut selama 30 minggu dengan didampingi ahli gizi untuk memastikan kebutuhan zat gizi hariannya terpenuhi.

Setelah terbiasa menjalani pola diet bebas gluten dan kasein, selama 12 minggu anak-anak tersebut diberi makanan mengandung gluten, kasein, keduanya, atau plasebo. Baik peneliti, orang tua, dan sang anak tidak tahu apakah mereka mendapat makanan sungguhan atau sebuah plasebo.

Untuk menciptakan menu makanan dengan atau tanpa gluten dan kasein, Dr Hyman bekerja hati-hati di dapur. Ia mengusahakan agar keduanya mirip dari segi rasa dan tekstur sehingga anak-anak tidak mengenali perbedaannya.

Para peneliti kemudian mencatat serangkaian perilaku yang ditunjukkan sang anak setelah mengonsumsi makanan yang disajikan. Para orang tua juga diminta memonitor perilaku anaknya di rumah, termasuk pola tidur serta buang air besarnya.

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada gangguan perilaku anak autis ketika mengonsumsi makanan mengandung gluten dan kasein dan ketika tidak mengonsumsi keduanya.



“Penelitian kami menunjukkan diet bebas gluten dan kasein tidak terbukti memperbaiki gangguan perilaku pada anak autis. Namun bukan berarti aspek-aspek lain dari gizi tidak perlu dipelajari ke depannya,” ujar Dr Hyman seperti dikutip dalam Wall Street Journal (15/09/15).

Ia mengaku telah menyebarluaskan informasi ini pada pasien yang datang ke kliniknya. Namun ia tetap mendukung jika orang tua bersikeras mencoba diet bebas gluten dan kasein untuk anaknya yang autis.

Elaine Buchovecky, salah satu orang tua yang anaknya terlibat dalam penelitian ini, mengatakan tidak ada perubahan perilaku sang anak ketika mengonsumsi makanan bebas gluten ataupun tidak.

“Jika dia menyukai makanan yang mengandung gluten, kini saya akan membolehkannya,” pungkas Buchovecky.

(adr/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads