Semua orang pasti ingin sehat. Karena itu, berbagai cara akan mereka lakukan, termasuk mengikuti tren kesehatan yang mahal atau menghabiskan waktu. Metode tersebut menjanjikan manfaat bagi kesehatan. Padahal, banyak yang belum terbukti kebenarannya.
Sepanjang tahun 2014 di Australia, muncul beberapa tren kesehatan yang berhubungan dengan makanan. Beberapa trenpun menyebar ke tanah air karena letak Negeri Kanguru yang berdekatan dengan Indonesia. Apa saja? Berikut daftarnya seperti dilansir ABC Australia:
Merendam kacang
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Phytate adalah zat kimia dalam kacang yang membantu proses perkecambahan. Zat ini disebut-sebut menyebabkan masalah pencernaan dan membuat tubuh berhenti menyerap mineral dari makanan.
Namun menurut pakar diet terakreditasi Lisa Yates, metode ini tak memiliki bukti. "Malah ada banyak bukti terkait manfaat phytate untuk kesehatan, di antaranya kemungkinan perannya dalam mengurangi risiko kanker usus. Jika phytate dapat membantu menurunkan risiko tersebut, mengapa kita mau menghilangkannya?" kata Yates.
Kesimpulannya, tanpa direndam sekalipun, kacang sudah bermanfaat bagi tubuh. Bagaimanapun juga, proses perendaman memang membantu memecah phytate dan beberapa jenis serat dalam kacang-kacangan, sehingga tubuh lebih mudah mencernanya.
Makanan bebas gluten
Kini makanan bebas gluten tak hanya dikonsumsi penderita penyakit celiac. Meski tren ini tak hanya terjadi pada 2014, setiap tahun konsumen makanan bebas gluten semakin bertambah.
Yates khawatir, sebagian besar orang mendiagnosis diri sendiri mengalami intoleransi gluten. "Bisa saja mereka ternyata mengalami masalah serius lain yang menyebabkan kembung, misalnya kanker, yang belum terdeteksi karena mereka belum diperiksa secara benar oleh dokter," ujar Yates.
Orang yang mengikuti tren inipun seringkali tak sadar bahwa makanan bebas gluten penuh dengan bahan tak sehat. "Umumnya makanan tersebut mengandung indeks glikemik (GI) tinggi akibat bahan pengganti yang digunakan di dalamnya serta tingkat pengolahannya. Makanan tinggi GI bisa meningkatkan risiko diabetes tipe II dan penyakit jantung," Yates mengingatkan.
Beralih ke makanan bebas gluten juga membuat Anda berisiko kekurangan gizi penting seperti serat jika Anda tak berusaha menyeimbangkan asupan Anda. "Anda tak bisa hanya makan nasi dan jagung saja karena bebas gluten. Anda juga harus meningkatkan asupan buah, sayuran, dan kacang-kacangan sebagai sumber serat," saran Yates.
Jadi, konsumsilah makanan bebas gluten hanya jika dokter menyatakan bahwa Anda menderita penyakit celiac.
Jus hijau
Jus dan smoothie yang terbuat dari sayuran hijau identik dengan gaya hidup sehat. Ahli diet Dr. Naras Lapsys menganggapnya sebagai hal positif.
"Banyak orang tak cukup mengonsumsi sayuran. Jadi ini adalah cara yang benar-benar efektif untuk memasukkannya ke dalam diet Anda. Jika Anda lapar di sore hari, daripada makan muffin, lebih baik meneguk minuman yang mengandung sayuran," kata Lapsys.
Bagaimanapun juga, jus dan smoothie hijau sebaiknya hanya dianggap sebagai tambahan pola makan yang sudah sehat. "Jika pola makan Anda buruk dan Anda berpikir bahwa jus hijau akan jadi penyelamat, berarti Anda salah," ujar Lapsys.
Jus hijau yang hanya mengandung sayuran memang rendah kalori serta tinggi vitamin dan mineral. Kalau Anda menambahkan setengah buah apel hijau untuk memberikan rasa manis, jus jadi mengandung sedikit energi untuk tubuh dan karbohidrat, namun masih dalam tahap wajar.
"Namun jika Anda memasukkan banyak buah, minuman tersebut jadi tinggi gula dan mirip soft drink. Kalau Anda menambahkan bubuk protein seperti chia seed dan sebagainya, jus berubah jadi pengganti makan. Minuman jadi padat kalori dan gizi, namun bukan untuk dinikmati pada jam 3 sore sebagai camilan," Lapsys mengingatkan.
Jadi, jus dan smoothies hijau memang baik dikonsumsi, namun hati-hati saat menambahkan bahan-bahan lain ke dalamnya.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN