Hati-Hati, Konsumsi Pemanis Buatan Berpotensi Tingkatkan Risiko Diabetes

- detikFood Jumat, 19 Sep 2014 15:22 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Pemanis buatan dipasarkan sebagai alternatif gula untuk orang yang sedang berdiet atau menderita diabetes. Namun, sebuah penelitian mengungkap bahwa pemanis tanpa kalori justru meningkatkan risiko diabetes.

Pemanis buatan nonkalori biasa ditambahkan dalam diet soda serta sereal dan dessert rendah kalori. Beberapa pakar menyarankan pemanis tersebut untuk penderita diabetes tipe 2 serta orang yang mengalami kondisi pradiabetes yakni intoleransi glukosa atau memiliki kadar gula darah tinggi.

Setelah meninggalkan sensasi manis di lidah, molekul pemanis buatan akan melewati usus tanpa diserap. Makanya, berbeda dengan gula, pemanis buatan tak memberi kalori tambahan.

Namun, para ilmuwan yang melakukan percobaan terhadap tikus laboratorium dan sekelompok kecil manusia menemukan bahwa pemanis buatan mengganggu susunan dan fungsi bakteri usus. Bahkan, pemanis buatan juga mempercepat intoleransi glukosa.

"Pemanis buatan banyak dimasukkan dalam makanan kita untuk mengurangi asupan kalori dan menormalkan kadar glukosa darah tanpa mengabaikan rasa manis yang disukai manusia.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa pemanis buatan malah berkontribusi langsung menaikkan epidemi yang seharusnya diperangi," tulis para peneliti di jurnal Nature, seperti ditulis AFP (17/09/2014).

Para peneliti menambahkan tiga jenis pemanis buatan yang biasa dipakai, yakni aspartam, sukralosa, atau sakarin, ke dalam air minum tikus dengan dosis yang setara dengan asupan maksimal yang dianjurkan bagi manusia.

Ternyata, tikus-tikus yang diberi pemanis buatan mengalami intoleransi glukosa, sedangkan tikus yang hanya minum air atau air dengan gula tidak.

Kemudian, peneliti mentransplantasi feses dari tikus yang diberi pemanis buatan dan yang diberi glukosa ke tikus yang sengaja diternakkan tanpa bakteri usus.

Kadar gula darah penerima transplantasi pemanis buatan naik tajam. Bakteri usus merekapun bekerja lebih keras mengekstrak glukosa dari makanan daripada grup lain.

Peneliti lalu menerapkan hal ini pada manusia. Setelah meneliti kuesioner dan data kesehatan dari 381 orang yang tak menderita diabetes, tim peneliti menemukan kaitan signifikan antara intoleransi glukosa dan tingginya konsumsi pemanis buatan.

Peneliti meminta tujuh orang yang sehari-hari tak menggunakan pemanis buatan untuk mengonsumsi pemanis sampai batas maksimum yang disarankan Food and Drug Administration Amerika Serikat.

Dalam 5-7 hari, empat orang mengalami peningkatan kadar gula darah dan perubahan campuran bakteri usus. Hasil percobaan ini tampak sama dengan pada tikus.

Penelitian terkait pemanis buatan sebelumnya memberi hasil yang berbeda-beda. Ada yang menunjukkan manfaatnya dalam penurunan berat badan dan toleransi glukosa, namun ada pula yang memperlihatkan sebaliknya. Selain itu, banyak konsumen pemanis buatan sudah mengidap diabetes atau memiliki kecenderungan diabetes.

"Studi ini mengajak kita memikirkan kembali konsumsi pemanis buatan yang masif dan tak diawasi seperti sekarang," kata Eran Elinav, salah satu peneliti dari Weizmann Institute of Science Israel.

Bagaimanapun juga, percobaan pada manusia hanya melibatkan tujuh orang selama seminggu. Percobaan yang lebih luas dan lebih lama diperlukan untuk menarik kesimpulan pasti.

"Makanan manusia kompleks, terdiri dari banyak makanan. Konsumsinya bisa bervariasi jumlahnya dan berakumulasi," kata John Menzies dari Pusat Fisiologi Terintegrasi University of Edinburgh, Skotlandia.

Sementara itu, Nita Forouhi, ahli epidemiologi dari University of Cambridge, mengatakan bahwa penelitian ini meningkatkan kewaspadaan bahwa pemanis buatan bukanlah solusi tanpa cacat untuk membantu mengatasi epidemi obesitas dan diabetes. "Namun studi tersebut tak memberikan bukti cukup untuk mengubah praktik klinis dan kesehatan masyarakat," ujarnya.

(fit/odi)