Wanita dengan Riwayat Gangguan Makan Berisiko Alami Komplikasi Kehamilan

Wanita dengan Riwayat Gangguan Makan Berisiko Alami Komplikasi Kehamilan

- detikFood
Jumat, 11 Apr 2014 07:41 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Gangguan makan ternyata tidak hanya berefek buruk bagi tubuh sang penderita. Sebuah studi di Finlandia menemukan bahwa gangguan makan juga bisa memengaruhi kehamilan dan bayi yang akan dilahirkan kelak.

Menurut Cleveland Clinic, diperkirakan 1-2% wanita di Amerika Serikat mengalami anorexia nervosa, sedangkan sekitar 2% perempuan pernah menderita bulimia nervosa.

"Gangguan makan seringkali memengaruhi wanita pada tahun-tahun suburnya. Perilaku khas gangguan makan sangat mengganggu keseimbangan metabolik dan hormon tubuh, sehingga bisa memengaruhi kehamilan dan kelahiran," kata Dr. Milla Lina, ketua peneliti dari Hjelt Institute, University of Helsinki, Finlandia.

Karena itulah, ia dan timnya ingin melihat apakah wanita yang memiliki riwayat pernah menjalankan terapi gangguan makan berisiko mengalami masalah kehamilan dan kelahiran.

Mereka memeriksa catatan medis 2.257 orang wanita yang pernah dirawat di klinik gangguan makan Helsinki University Central Hospital Finlandia dari 1995-2010. Secara spesifik, mereka mencari apakah ada kehamilan setelah terapi, dan apakah ada komplikasi selama kelahiran.

Mereka menemukan bahwa selama 2010 wanita yang mengalami anorexia melahirkan 302 bayi, penderita bulimia memiliki 724 bayi, dan wanita dengan gangguan makan berlebih melahirkan 52 bayi.

Peneliti membandingkan data para wanita tersebut dengan catatan medis 3.462 wanita Finlandia yang tidak terdiagnosis gangguan makan. Seperti dimuat di American Journal of Obstetrics and Gynecology, mereka melahirkan 6.319 bayi selama periode studi.

Kebanyakan komplikasi kelahiran terjadi pada frekuensi yang sama di semua kelompok. Namun, ada beberapa pengecualian. Contohnya, wanita pengidap anorexia berpeluang lebih besar terkena anemia. Mereka juga lebih berisiko memiliki bayi dengan berat badan rendah dan kelahiran sangat prematur.

Sementara itu, wanita yang mengalami bulimia lebih cenderung memiliki bayi yang memerlukan resusitasi (bantuan pernafasan) atau skor Apgar yang rendah. Skor Apgar adalah penilaian sederhana terkait apakah bayi baik-baik saja setelah dilahirkan.

Wanita penderita gangguan makan berlebihan berpeluang lebih besar mengalami tekanan darah tinggi saat hamil. Mereka juga berisiko melahirkan bayi besar. Selain itu, peneliti menemukan bahwa wanita pengidap anorexia dan gangguan makan berlebih berisiko lebih tinggi mengalami kematian janin dan bayi.

Menurut Dr. Nadia Micali dari Institute of Child Health University College London Inggris, buktinya cukup kuat untuk menyatakan bahwa ibu anorexia berkaitan dengan bayi yang berat lahirnya rendah.

"Sebagian alasannya adalah karena sang ibu sendiri memiliki berat badan yang rendah," jelasnya. Hal ini tentu dapat dicegah. Jika si wanita memiliki berat badan normal, risiko pada bayinya menurun.

Menurut Micali, mengetahui apakah seorang wanita pernah mengalami gangguan makan tak hanya penting bagi si ibu, tapi juga bagi sang bayi. Namun, wanita yang pernah mengalami gangguan makan bisa jadi malu mengakuinya, bahkan kepada dokter sekalipun.

"Mereka merasa terstigma. Jadi, sangat penting bagi profesional kesehatan untuk membantu wanita agarn lebih terbuka," ujar Micali kepada Reuters Health (09/04/2014).


(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads