Ternyata Mikroba Usus Dapat Pengaruhi Turunya Berat Badan

- detikFood Selasa, 24 Des 2013 08:31 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Menurunkan berat badan bisa dengan berbagai cara. Termasuk mengonsumsi obat-obatan. Namun, mengonsumsi antibiotik yang berpengaruh pada mikroba pada usus juga berdampak pada turunya berat badan.

Pada tahun 2008 , Rob Knight jatuh sakit saat berlibur di Peru. Dia mengonsumsi antibiotik selama 5 hari dan membaik tapi setelah itu kambuh lagi. Kemudian Knight melanjutkan kegiatan diet dan olahraga normal.

Ia mengalami penurunan berat badan yang drastis. Dia yakin antibiotik mengubah komposisi mikroba dalam ususnya yang menyebabkan dia kehilangan berat badan sebanyak 3,5 kilogram.

Bakteri, mikroba ataupun virus tumbuh secara alami dan mungkin dapat mempengaruhi berat badan. Sejumlah penelitian memperlihatkan peran organisme usus terhadap kejadian obesitas, dengan fokus pada bagaimana mereka mengekstrak energi dari makanan dan bagaimana ini mempengaruhi kenaikan atau penurunan berat badan.

"Secara keseluruhan, mungkin di beberapa titik bakteri dapat mempengaruhi berat badan pada manusia dengan mempengaruhi microbiome," kata Rob Knight seorang profesor kimia dan biokimia di University of Colorado di Boulder.

Seperti yang dilansir dalam mnn.com (23/12/2013) obesitas di Amerika telah meningkat selama 20 tahun terakhir. Menurut US Center For Diesease Control and Prevention, lebih dari sepertiga orang dewasa dan 17 persen pada anak-anak dan remaja,. Dokter bedah umum juga memperkirakan sebanyak 300.000 kematian pada orang Amerika setiap tahun dapat dikaitkan dengan obesitas.

Para peneliti menduga bakteri dapat berperilaku sama di antara manusia karena mikroba membantu untuk mengekstrak kalori dari makanan dan menyimpan energi potensial dalam jaringan lemak.

"Jika ingin tetap ramping, dibutuhkan bakteri yang sangat tidak efisien," kata Claire Fraser, seorang profesor kedokteran dan mikrobiologi dan imunologi di University og Maryland School of Medicine."

Satu mangkuk makanan memberikan kontribusi terhadap komposisi komunitas bakteri dalam usus. Sebagai contoh, Fraser mengatakan, "tinggi lemak dan rendah serat," yang mungkin memainkan peran dalam mengembangkan obesitas."

Penelitian terbaru oleh Stanley Hazen dari Klinik Cleveland, menemukan bahwa saat "bersendawa" bakteri gastrointestinal mengeluarkan bahan kimia yang disebut TMAO (trimetilamina N-oksida) setelah orang mengonsumsi daging merah atau telur. TMAO akan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Para peneliti menganalisis data dari 310 orang dan mengidentifikasi 26 spesies bakteri usus yang ditemukan pada konsentrasi yang berbeda pada orang gemuk yang memiliki atau tidak memiliki sindrom metabolik.

Para ilmuwan juga mencoba memahami pengaruh mikroba usus dalam hasil operasi penurunan berat badan, dengan tujuan untuk mengidentifikasi prosedur terbaik. Pada tahun 2010 sekitar 150.000 orang menjalani operasi penurunan berat badan di Amerika menurut American Society for Metabolic dan Bariatrik bedah.

Ada dua jenis organisme khusus untuk kelompok obesitas. Populasi mikroba yang diambil dari penderita obesitas yang tinggi pada bakteri yang memproduksi hidrogen yang dikenal sebagai Prevotellaceae dan metanagon hidrogen makanan tapi bukan bakteri melainkan organisme sel tunggal.

Rittmann dan rekan-rekannya memiliki studi lain, kali ini mereka memeriksa penurunan berat badan pada orang sebelum dan setelah operasi dan membandingkan jenis prosedur penurunan berat badan. Juga mencoba untuk menentukan perubahan microbic mungkin akan terjadi.

"Mengelola komunitas mikroba dalam usus kita adalah salah satu alat untuk membantu kita mengelola obesitas dan penyakit lainnya. Dapat dibayangkan bahwa suatu hari nanti kita bisa menyingkirkan mikroorganisme yang salah dan menempatkan bakteri yang sesuai untuk tubuh kita. Artinya apa yang kita inginkan mungkin bisa terjadi." tutur Knight

Namun Knight mengingatkan bahwa orang tidak boleh berasumsi antibiotik yang mungkin membuat mereka ramping, karena ia percaya hal itu dalam kasusnya. " Sulit untuk menggeneralisasi pengalaman satu orang dengan populasi umum, terutama karena respon orang terhadap obat-obatan, diet dan olahraga berbeda.” kata Knight

(dni/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com