Peningkatan Konsumsi Daging di India dan China Berpotensi Rusak Lingkungan

Peningkatan Konsumsi Daging di India dan China Berpotensi Rusak Lingkungan

- detikFood
Rabu, 11 Des 2013 07:26 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Studi menunjukkan pergeseran global menuju pola makan hewani yang merupakan pertanda buruk bagi lingkungan. Pertumbuhan ekonomi di China dan India mendorong peningkatan konsumsi global daging.

β€œKami lebih dekat untuk menjadi herbivora daripada karnivora” tutur Bonhommeau, seorang ilmuwan asal Prancis pada nydailynews (10/12/2013). Ini mengubah prasangka manusia menjadi predator teratas.

Akan tetapi ada pergeseran menuju karnivora yang di dorong oleh China dan India, karena populasi kedua negara yang menyebabkan tingginya konsumsi daging dalam beberapa dekade terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan itu dapat ditekan oleh Australia, Amerika utara dan sebagian negara Eropa yang telah mengurangi konsumsi daging sejak tahun 1990.

Peneliti menyarankan perlu kesadaran akan masalah kesehatan yang berhubungan dengan lemak. Diet daging memberikan kontribusi terhadap perubahan itu. Studi dipublikasikan secara online pada hari Senin (9/12) di Prosiding National Academy of Sciences pertama kalinya untuk menentukan tingkat trofik manusia.

Angka pada skala 1 sampai 5 yang menentukan dimana suatu organisme berdiri dalam rantai makanan. Tanaman, yang mendapatkan energi dari matahari, berada pada level 1, sedangkan predator karnivora seperti harimau dan beruang berada pada level 5.

Menurut Bonhommeau dan rekan-rekannya, tingkat trofik manusia menjadi 2,21 meningkat 3% dalam 50 tahun. Para peneliti memperingatkan, jika sebuah trofik yang lebih tinggi memiliki efek buruk pada lingkungan.

Mereka menggunakan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) agar Perserikatan Bangsa-bangsa mempelajari apa yang dimakan orang di berbagai negara sejak tahun 1961.

(odi/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads