Minuman Energi Terbukti Bisa Picu Peningkatan Kontraksi Jantung

Minuman Energi Terbukti Bisa Picu Peningkatan Kontraksi Jantung

Deani Sekar Hapsari - detikFood
Rabu, 04 Des 2013 15:37 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Walaupun dianggap bisa mengobati kantuk, minuman energi mempunyai efek buruk. Dalam studi terbaru terbukti konsumsi minuman energi dapat memicu masalah kontraksi jantung bahkan pada orang yang berbadan sehat.

Untuk studi ini, tim peneliti dari University of Bonn merekrut 18 partisipan sehat dengan rata umur 27 tahun. Mereka melakukan pengujian cardiac magnetic resonance imaging (MRI) sebelum meneguk minuman berenergi yang yang mengandung 32 miligram/100 mililiter kafein dan 400 miligram/100 mililiter taurine.

Setelah satu jam, semua partisipan diminta kembali melakukan cardiac MRI untuk melihat apakah konsumsi minuman berenergi mempunyai efek pada fungsi jantung. Tim peneliti menemukan tingkat kontraksi jantung para partisipan meningkat. Hal ini mengindikasi peningkatan peak systolic strain di dalam ventrikel kiri jantung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ventrikel kiri jantung menerima darah yang telah diberi oksigen dari paru-paru yang nantinya akan dipompa ke aorta untuk disalurkan ke seluruh bagian tubuh. Lewat hasil studi ini, tim peneliti menyatakan orang yang mempunyai kelainan detak jantung harus menghindari minuman ini karena kondisi tersebut dapat meningkatkan tingkat kontraksi jantung.

β€œKami menunjukkan bahwa konsumsi minuman berenergi mempunyai pengaruh jangka pendek pada kontraksi jantung. Studi lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh jangka panjang konsumsi minuman dan efeknya pada orang dengan penyakit jantung,” tutur Jonas DΓΆrner, M.D., of the University of Bonn, Jerman.

Studi ini dipresentasikan di pertemuan tahunan Radiological Society of North America. Walaupun, maksimal asupan kafein per hari adalah 400 mg untuk orang dewasa, Food and Drug Administration menegaskan tidak ada batas aman untuk anak-anak dan remaja karena konsumsinya tidak direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics.

(dni/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads