Sering Konsumsi Teh Murahan Sebabkan Gigi Kuning dan Pengapuran Tulang

Sering Konsumsi Teh Murahan Sebabkan Gigi Kuning dan Pengapuran Tulang

- detikFood
Kamis, 25 Jul 2013 14:01 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Hati-hati berbuka nanti sore dengan teh murahan. Penelitian di Inggris menemukan bahwa teh ini mengandung fluoride melebihi batas. Jika sering dikonsumsi, teh murahan bisa menimbulkan beberapa gangguan kesehatan.

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization 2009, Inggris berada di urutan ke-13 negara dengan konsumsi teh tahunan terbesar di dunia. Totalnya 60 miliar cangkir teh per tahun, di mana 55 miliarnya dibuat dengan teh celup. Setiap harinya orang Inggris meminum sekitar empat cangkir atau satu liter teh.

Beberapa supermarket besar di Inggris menawarkan teh merek sendiri dengan harga murah. Peneliti dari Derby Universitypun mengetes jumlah fluoride dalam satu liter teh tersebut. Mereka menggunakan ukuran asupan harian Amerika Serikat, yakni 3-4 mg fluoride untuk orang dewasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata, Asda Smartprice, Morrisons Value, Sainsbury’s Basics, dan Tesco Value paling banyak mengandung fluoride, yakni rata-rata 6 mg. Merek-merek teh ini mengandung 75-120% dari rekomendasi asupan harian.

Konsentrasi fluoride tertinggi berikutnya terdapat pada teh hijau celup merek Clipper Organic leaf dan Green Twining. Setelah itu, ada teh celup Essential dari Waitrose (3,6 mg) serta teh hitam seperti PG Tips, Twining's, dan Typhoo yang rata-rata mengandung 3,3 mg fluoride per liter.

Campuran teh murni seperti Assam, Dilmah, dan Ceylon, mengandung fluoride dalam kadar lebih rendah lagi. Namun, yang paling sedikit kandungan fluoridenya adalah Oolong dan Pu'er. Rata-rata hanya mengandung 0,7 mg fluoride per liter atau 16% dari rekomendasi asupan harian.

Dalam jurnal Food Research International, peneliti Laura Chan menjelaskan bahwa tanaman teh (Camellia sinensis) adalah pengumpul fluoride dari tanah. Namun, zat ini paling banyak terdapat di daun teh yang sudah tua.

"Ketika teh dipanen, daun yang tua digunakan untuk menghasilkan teh yang lebih pekat dan berkualitas lebih rendah, seperti teh murah. Sementara itu, pucuk dan daun teh muda dipakai untuk membuat produk teh spesial dan bermutu tinggi," jelasnya, seperti dilansir Daily Mail (24/07/13).

Menurut Chan, orang-orang bisa jadi meminum teh dalam jumlah berlebihan ditambah makanan lain yang menjadi sumber fluoride seperti wine dan seafood. Sayangnya, mereka mungkin tak menyadari potensi dampak kesehatannya. Apalagi jika mereka meminum teh saat perut kosong, seperti di pagi hari atau saat berbuka puasa.

Fluoride yang juga terdapat dalam pasta gigi memang penting untuk kesehatan tulang dan gigi. Namun, dalam dosis tinggi, zat ini bisa membuat gigi menjadi kuning atau cokelat.

Fluoride yang dikonsumsi berlebihan juga dapat mengakibatkan pengapuran tulang, sakit persendian, osteoporosis, dan masalah otot. Bahkan fluoride juga bisa menyebabkan gangguan ginjal dan memiliki kaitan dengan kanker.

Para peneliti mengimbau kadar fluoride ditampilkan di kemasan teh, berdampingan dengan informasi nutrisi.

(fit/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads