Menurut National Parkinson Foundation, orang dengan penyakit Parkinson mengalami kerusakan pada 80 persen syaraf yang memproduksi dopamine, senyawa yang mengendalikan fungsi otot. Gejala utamanya adalah tremor, pergerakan lambat, tangan atau kaki tegang, dan masalah keseimbangan.
Tim peneliti dari University of Washington, Seattle, Amerika Serikat menyatakan manfaat kesehatan ini datang dari kandungan nikotin di dalam paprika. Jika ditelusuri, paprika dan tembakau berasal dari satu famili yang sama bernama Solanaceae, sehingga tiap buah paprika mempunyai sedikit kandungan nikotin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para tim peneliti meminta para partisipan menjawab pertanyaan mengenai kebiasaan makan dan penggunaan tembakau.
Peneliti menemukan bahwa konsumsi paprika dua kali dalam seminggu bisa menurunkan risiko hingga 30 persen. Selain itu, orang yang mengonsumsi paprika lima hingga enam kali selama seminggu bisa menurunkan risiko hingga 50 persen dibandingkan yang mengonsumsi kurang dari satu paprika seminggu.
βManfaat konsumsi paprika terhadap syaraf ini lebih jelas terlihat pada orang yang tidak menggunakan tembakau secara teratur,β tutur Susan Searles Nielsen selaku peneliti kesehatan lingkungan dan pekerjaan di University of Washington. Studi ini akan dipublikasikan pada 9 Mei 2013 di jurnal Annals of Neurology.
Nielsen menekankan bahwa penelitian ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab dan pengaruh. βWalaupun sangat menarik untuk berpikir bahwa konsumsi paprika dapat melindungi penyakit Parkinson, kita harus mempertimbangkan banyak penjelasan lainnya. Karenanya dibutuhkan penelitian lebih lanjut,β tutur Nielsen.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN