Fruktosa secara alami terkandung dalam madu, sayuran, dan buah-buahan. Namun, zat pemanis ini juga terdapat dalam beberapa jenis makanan dan minuman pabrikan, seperti soft drink dan biskuit, berupa pemakaian high-fructose corn syrup.
Seperti dimuat di Journal of the American Medical Association, fruktosa terbukti meningkatkan nafsu makan. Pada gilirannya, hal ini dapat menyebabkan obesitas. Makanya, fruktosa disebut-sebut lebih berbahaya dibandingkan gula jenis lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti melihat penurunan darah di sekitar bagian hypothalamus lebih besar setelah mengonsumsi glukosa daripada fruktosa. Area otak ini mengatur nafsu makan manusia. Keaktifan area otak insula dan striatum yang mengatur motivasi dan pemrosesan reward juga menurun.
Selain meningkatkan nafsu makan, fruktosa juga gagal menghasilkan perasaan kenyang seperti yang diproduksi glukosa. "Jadi, fruktosa bisa meningkatkan perilaku mencari makanan dan mempertinggi asupannya," jelas Dr Kathleen Page, salah satu peneliti, seperti diberitakan situs Daily Mail (01/01/13).
Lebih jauh, Page mengungkapkan bahwa peningkatan konsumsi fruktosa berbanding setara dengan kenaikan prevalensi obesitas. Apalagi diet tinggi fruktosa diketahui dapat mendorong penambahan berat badan dan resistansi insulin.
Kekhawatiran tentang high-fructose corn syrup terus bertambah. Beberapa pakar kesehatan yakin bahwa fruktosa berperan besar dalam krisis obesitas di Amerika dan Inggris. Dikatakan bahwa bahan pemanis ini dapat menyebabkan autisme.
Dalam kasus ini, bukan jumlah kalori lagi yang penting, melainkan jenis gula yang dikandung makanan atau minuman tertentu. Namun, jangan takut mengonsumsi buah segar. Meski mengandung fruktosa, kadarnya rendah. Lagipula, risikonya kalah besar dibanding manfaat kesehatannya.
(dyh/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN