5 Salah Kaprah Orang Tua Soal Makanan yang Diturunkan Pada Anak

5 Salah Kaprah Orang Tua Soal Makanan yang Diturunkan Pada Anak

- detikFood
Rabu, 27 Jun 2012 08:11 WIB
5 Salah Kaprah Orang Tua Soal Makanan yang Diturunkan Pada Anak
Foto: thinkstock
Jakarta -

1. Jangan ngemil karena bisa merusak selera makan!

Foto: thinkstock
Larangan mengemil hampir selalu dilakukan orang tua pada anak. "Camilan membuat gula darah stabil dan tidak terlalu lapar di antara waktu makan.” kata Debra Waterhouse, MPH, RD, dalam Outsmarting the Mother-Daughter Food Trap. Camilan tetap bisa dimakan, tetapi pilihlah yang berkalori 100-200 kalori, seperti kacang-kacangan, buah, yoghurt, atau sayuran.

2. Habiskan semua makanan yang ada di piring!

Foto: thinkstock
Setiap orang tua pasti akan menyuruh anaknya  menghabiskan makanan di piring. Hal tersebut akan membuat si anak tidak mengindahkan sinyal tubuhnya."Tidak apa-apa untuk meninggalkan sedikit makanan. Tubuh akan memberi signal jika sudah kenyang atau belum," kata Brown-Riggs. Jika porsi besar sebaiknya minta setengahnya dan tidak akan sulit menghabiskannya.

3. Jangan makan sebelum berolahraga!

Foto: thinkstock
Makan sesuatu yang ringan 30 sampai 60 menit sebelum berolahraga agar latihan jadi maksimal. Anda akan dapat dorongan energi yang cepat," kata Natalie Digate Muth, MD, MPH, RD, seorang juru bicara American Council on Exercise. Pilihlah makanan ringan yang tinggi karbohidrat, rendah lemak, rendah serat  untuk  300 kalori. Misalnya, segelas susu coklat, sepotong roti panggang dengan selai kacang.

4. Makanlah cepat-cepat!

Foto: thinkstock
Ketika sarapan, orang tua akan menyuruh anknya untuk cepat-cepat menghabiskan makanan agar tidak terlambat ke sekolah. Hal ini membuat tubuh kehilangan isyarat bahwa perut sudah penuh. "Butuh 20 menit bagi otak untuk memeri tanda sudah kenyang," kata Brown-Riggs. Perlambat suapan makan dan kunyahannya.

5. Kamu berhak makan dessert hari ini!

Foto: thinkstock
Ketika orang tua memberikan dessert sebagai hadiah, niatnya baik, tetapi hal ini menjadi sugesti sayuran kurang menarik."Kami tidak ingin memakai makanan sebagai hadiah, karena sering mengirim pesan yang salah. Kita tidak lagi makan karena  lapar, tetapi kita makan karena mendapatkan sesuatu. Makanan tidak boleh dijadikan sebagai hukuman," kata Brown-Riggs.
Halaman 2 dari 6
(dyh/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads