Sejarah Eropa menunjukkan bahwa sejak dulu daging memang diidentikkan dengan kekuasaan dan hak istimewa. Daging menjadi makanan pokok bagi bangsawan, sedangkan kaum tani jarang sekali mencicipinya. Pada Perang Dunia I, daging sering diselundupkan dari wanita sipil ke pejuang laki-laki.
Dalam jurnal Appetite disebutkan bahwa daging menjadi simbol patriarki di budaya Eropa Barat, Afrika, dan Asia. Hal ini diperkuat dengan tradisi penguasa, yang umumnya laki-laki, agar menguntungkan kaumnya sendiri. Caranya adalah dengan memonopoli dan menyebarkan bahwa daging itu tabu untuk wanita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembicaraan tentang daging mengilhami lebih banyak kata-kata maskulin. Subyek penelitian pun menilai pria yang memakan daging lebih macho dibanding pria yang tidak memakan daging. Meski sebagian besar peserta riset ini berasal dari Amerika Serikat dan Britania Raya, peneliti juga menemukan bahwa kata 'daging' merupakan kata benda maskulin di 23 bahasa lain.
"Daging merah adalah makanan yang kuat dan macho, sementara kedelai dianggap sebagai makanan yang lemah," kata peneliti riset 'Is Meat Male? A Quantitative Multi-Method Framework to Establish Metaphoric Relationships' tersebut. Makanya, lebih banyak wanita yang mengadopsi gaya hidup vegetarian dibanding laki-laki.
Peneliti menyarankan kepada ahli pemasaran dan pakar kesehatan untuk mempertimbangkan makanan sebagai pembentuk pikiran dan perasaan. Tujuannya adalah agar sukses membentuk tingkah laku konsumen. "Misalnya dengan membuat burger dari kedelai agar para pria mau beralih ke makanan non daging," tulis sang peneliti.
Riset ini bukanlah yang pertama menghubungkan antara daging dan maskulinitas. Pada tahun 2011, jurnal Appetite memuat riset bahwa orang-orang, termasuk vegetarian, menganggap bahwa vegetarian adalah orang yang berbudi luhur, namun kurang jantan. Bagaimanapun juga, anggapan ini lebih mengarah ke sosial, bukan biologis.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN