Obesitas Anak Bukan Karena Junk Food di Sekolah

Obesitas Anak Bukan Karena Junk Food di Sekolah

- detikFood
Selasa, 07 Feb 2012 13:07 WIB
Foto: mamiverse.com
Jakarta - Jajanan di sekolah sering dicurigai tidak sehat dan tidak bergizi. Jajanan ini dianggap penyebab penyakit dan kegemukan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa junk food di sekolah tidak mempengaruhi kegemukan pada anak.

Riset ini melibatkan 19,450 anak di Amerika Serikat. Mereka dijadikan subyek penelitian sejak duduk di kelas 5 hingga naik ke kelas 8. Selama itu, mereka dapat berpindah sekolah, asal tetap di county yang sama.

Pengelola sekolah memberikan informasi mengenai apakah competitive food (makanan yang dijual di sekolah, bersaing dengan National School Lunch Program) tersedia melalui vending machine, kios snack, atau a la carte. Makanan yang dimaksud termasuk junk food (soda dan permen) dan makanan sehat (yoghurt tanpa lemak dan air mineral).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesimpulannya, perpindahan anak ke sekolah lain yang tidak menawarkan competitive food (atau sebaliknya) tidak berpengaruh pada berat badan sang anak. Begitu pula dengan murid-murid yang tetap berada di sekolah dengan competitive food.

Selain itu, meski ada peningkatan jumlah junk food yang dijual di sekolah, persentase murid dari kelas 5 ke kelas 8 yang obesitas justru berkurang dari 39.1% menjadi 35.4%. Jennifer Van Hook, ketua peneliti dari Pennsylvania State University, juga sudah memperhitungkan faktor-faktor lain, seperti umur, gender, etnis, tingkat pendapatan keluarga, dan penghasilan sekolah.

Menurutnya, para siswa tidak punya waktu cukup banyak untuk makan berlebihan. Di sekolah, jadwal mereka padat, dan mereka punya jam ketat untuk makan. Makanya, ada atau tidaknya junk food di sekolah tidak berpengaruh banyak terhadap tingkat konsumsi junk food mereka. Hal ini berbeda dengan di rumah.

β€œJika kita ingin memerangi epidemi obesitas anak, kita tidak bisa hanya fokus pada sekolah. Sekolah hanya mewakili sebagian kecil lingkungan makanan anak,” kata profesor sosiologi dan demografi ini.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak mengembangkan kebiasaan makan sejak usia prasekolah. β€œKebiasaan ini bisa terbawa seumur hidup. Oleh karena itu, upaya ini sebaiknya dipusatkan pada orang tua serta makanan di rumah dan di luar sekolah,” ujar Jennifer.

Penelitian tersebut merupakan studi pertama tentang kaitan makanan di sekolah dan berat badan anak yang menggunakan sampel secara nasional, lalu meneliti subyek selama bertahun-tahun. Temuan ini dimuat di jurnal Sociology of Education.

Meski demikian, Nancy Copperman dari Jewish Health System New York mengkritisi hasil riset tersebut. Menurutnya, Jennifer tidak memperhatikan makanan apa yang dimakan oleh anak-anak di sekolah.



(Odi/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads