Jika Anda tergolong orang yang suka melanggar aturan diet, ada kabar baik. International Journal of Obesity mennyatkan bahwa orang-orang yang fleksibel dalam berdiet (misalnya tetap makan kudapan manis atau pantangan diet lainnya) lebih banyak menurunkan berat badan daripada yang benar-benar patuh pada aturan.
Apa saja prinsip diet yang boleh dilanggar? Women's Health mewawancarai 4 ahli nutrisi mengenai pengalaman mereka menyalahi aturan penurunan berat badan yang kelihatannya vital. Langgar aturan berikut ini agar tetap langsing tanpa menyiksa diri!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuannya adalah untuk menstabilkan gula darah, meningkatkan metabolisme, sekaligus tetap memenuhi nafsu makan. Namun, beberapa penelitian menunjukkan ada hubungan antara obesitas dengan kebiasaan makan lebih dari 3 kali sehari, terutama pada wanita. Semakin sering makan, kesempatan makan berlebihan juga semakin terbuka lebar. Apalagi jika harus memikirkan apa yang akan kita makan selanjutnya. Hal ini dapat menjadi tekanan, terutama bagi emotional eater.
Ahli gizi Renee Melton, R. D. menyarankan tambahan 21-25 gram makanan kaya serat saat sarapan, karena serat lambat dicerna tubuh dan akan memberi rasa kenyang lebih lama. Untuk makan siang dan makan malam, isi 1/2 bagian piring Anda dengan sayuran, 1/4 dengan karbohidrat, dan ΒΌ lagi dengan protein rendah lemak.
'Hindari roti, beras, dan pasta!'
Karbohidrat sering menjadi momok bagi orang-orang yang sedang berdiet karena dapat mempertinggi kadar gula darah. Akan tetapi, studi yang dipubikasikan di Journal of the American Dietetic Association membuktikan bahwa orang yang menyantap makanan tinggi karbohidrat justru lebih langsing dibanding orang-orang yang 'phobia' karbohidrat.
Menurut Christine Avanti, seorang ahli gizi dan penulis buku, konsumsi ideal karbohidrat adalah 180 gram per hari. Pastikan setengahnya terbuat dari biji-bijian utuh. Ukur seporsi (misalnya 1 cup) karbohidrat yang telah diproses (misalnya nasi putih, roti putih, dan pasta). Jika kurang kenyang, tambahkan protein rendah lemak.
'Jangan makan larut malam!'
Sebenarnya, waktu makan tidak memengaruhi pemrosesannya dalam tubuh. Studi European Journal of Clinical Nutrition dan United States Department of Agriculture (USDA) telah mengindikasikan hal ini. Makan di atas jam 9 malam justru memiliki kelebihan, yaitu menghindari ngemil makanan tidak sehat saat tengah malam, yang dapat menyebabkan kegemukan.
'Salah satu alasan makan lahap saat larut malam adalah karena menunda makan sejak siang,'kata Ann G. Kulze, ahli diet. Ia menganjurkan makan kacang-kacangan seperti almond pada jam 4 sore, jika berencana makan pada jam 9 malam.
'Tinggalkan dessert!'
Bagi pecinta makanan manis, dessert tentu sulit dihindari, padahal kalorinya tinggi. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa jika ada makanan baru di depan mata, kita merasa masih ada tempat di perut untuk makanan tersebut. Nafsu makan kita pun akan naik. Lalu bagaimana tips agar menjadi ramping meski tetap mengonsumsi dessert?
Jika ada, pilihlah menu dessert porsi anak-anak. Atau, Anda bisa berbagi dengan teman-teman. Pertimbangkan pula sorbet atau buah yang dicelup ke dalam cokelat cair, karena kalorinya lebih rendah. Alternatif lainnya adalah chocolate raspberry parfait.
Christine Avanti biasa memuaskan keinginannya terhadap makanan manis dengan resep berikut: Β½ cup keju ricotta tanpa lemak, satu sendok teh bubuk cokelat, dan ΒΌ cup raspberry segar atau beku. Mau coba?
(Odi/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN