Dari Jalur Pejalan Kaki, Begini Sejarah Unik Asal-Usul Pedagang Kaki Lima

Dari Jalur Pejalan Kaki, Begini Sejarah Unik Asal-Usul Pedagang Kaki Lima

Diah Afrilian - detikFood
Kamis, 15 Okt 2026 16:00 WIB
Aktivitas pedagang kaki lima kembali terlihat memenuhi trotoar di kawasan Lapangan Banteng, Senin (23/2/2026).
Foto: Mohammad Farrel/detikFoto
Jakarta -

Istilah pedagang kaki lima ternyata punya sejarah panjang sejak zaman kolonial. Sebutan ini berasal dari istilah five foot way yang berarti jalur lima kaki.

Pedagang kaki lima atau PKL sangat mudah ditemui di berbagai sudut kota. Mereka menjajakan makanan, minuman hingga kebutuhan sehari-hari di ruang publik.

Istilah pedagang kaki lima terdengar unik jika dimaknai secara harfiah. Sebab, sebutan tersebut sebenarnya tidak berkaitan dengan jumlah kaki pedagang maupun gerobaknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Good News From Indonesia, (15/10/2026), asal-usul istilah ini dapat ditelusuri hingga masa pemerintahan kolonial di Batavia. Awal mulanya, terdapat aturan mengenai penyediaan jalur khusus untuk pejalan kaki.

ADVERTISEMENT
Para pedagang kaki lima (PKL) berjualan di jalur pedestrian jalan Blora, sekitar 50 meter dari Stasiun Sudirman, Jakarta, Senin (7/10/2024).Kehadiran pedagang kaki lima ternyata sudah eksis sejak zaman kolonial. Foto: Ari Saputra

Jalur tersebut kini dikenal sebagai trotoar yang berada di tepi jalan. Lebarnya ditetapkan sekitar lima kaki atau kurang lebih 1,5 meter.

Dalam bahasa Inggris, ukuran tersebut dikenal dengan istilah 'five foot'. Ada pula istilah 'five foot way' yang merujuk pada jalur selebar lima kaki untuk pejalan kaki.

Istilah tersebut kemudian mengalami perubahan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Kata 'five foot' yang seharusnya berarti 'lima kaki' justru diterjemahkan menjadi 'kaki lima'.

Trotoar yang awalnya dibuat untuk pejalan kaki ternyata turut dimanfaatkan oleh pedagang keliling. Mereka menggunakan area tersebut untuk menawarkan barang dagangan kepada orang yang melintas.

Lama-kelamaan, pedagang yang berjualan di area tersebut ikut disebut sebagai pedagang kaki lima. Sebutan itu kemudian semakin dikenal dan digunakan masyarakat.

Antusiasme masyarakat mengunjungi Kawasan Kota Tua, Jakarta, masih tinggi menjelang berakhirnya masa libur sekolah, Sabtu (11/7/2026). Di balik ramainya wisatawan, aktivitas pedagang kaki lima (PKL) yang memenuhi trotoar turut mewarnai suasana kawasan wisata tersebut.Penamaannya diambil dari ukuran trotoar selebar lima kaki atau 1,5 meter.l Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto

Ada anggapan lain mengenai asal-usul istilah pedagang kaki lima. Versi tersebut mengaitkannya dengan pedagang yang menggunakan gerobak dengan beberapa roda.

Dua kaki pedagang kemudian dianggap sebagai dua kaki tambahan pada gerobak. Jika digabungkan dengan bagian penyangga gerobak, jumlahnya disebut menjadi lima.

Penggunaan istilah ini juga tidak selalu terbatas pada pedagang yang memakai gerobak. Pedagang dengan pikulan, meja kecil, tikar hingga sepeda juga dapat disebut PKL.

Dalam perkembangannya, PKL menjadi bagian dari kehidupan perkotaan. Makanan dan minuman menjadi salah satu dagangan yang paling mudah ditemukan dari PKL.



(dfl/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads