Pelajar di China ramai mengonsumsi camilan berbentuk tugas sekolah untuk meredakan stres belajar. Di balik keviralannya, tren unik ini menimbulkan pertanyaan tentang keamanan konsumsinya.
Tren makanan unik kembali mencuri perhatian di China. Kali ini, pelajar ramai-ramai membeli camilan berbentuk buku pelajaran dan lembar tugas sekolah yang bisa dimakan.
Camilan dengan julukan 'homework' atau PR (pekerjaan rumah) tersebut terbuat dari lembaran tipis berbahan tepung beras atau dikenal dengan nama rice paper.
Tampilannya dibuat menyerupai buku pelajaran berukuran mini untuk berbagai mata pelajaran. Di dalam kemasannya terdapat lembaran yang dihiasi gambar buku, kamus, sertifikat penghargaan, hingga kartu yang disebut penjual sebagai simbol beasiswa.
Camilan ini dijual di berbagai platform belanja online di China dengan harga kurang dari 0,50 yuan (Rp 1.300) per buah. Beberapa penjual menggunakan slogan seperti 'pereda stres', bahkan ada yang mengklaim camilan tersebut dapat membantu meningkatkan nilai akademik.
Dilansir dari South China Morning Post (16/09/2026), popularitasnya ikut didorong video yang beredar di media sosial. Sejumlah orang tua mengaku anak mereka meminta dibelikan camilan tersebut setelah melihatnya di internet.
Ada pula pelajar yang merasa aktivitas memakan 'tugas sekolah' dapat membantu mengurangi tekanan stres dari aktivitas belajar di sekolah.
Konsep unik ini mengingatkan pada Memory Bread dalam serial Doraemon. Dalam ceritanya, roti tersebut dapat ditempelkan pada buku sehingga tulisan berpindah ke permukaan roti. Setelah dimakan, seseorang dikisahkan bisa langsung mengingat isi buku tersebut.
Namun, keamanan camilan berbentuk tugas sekolah ini mulai menjadi perhatian. Media pemerintah China, China National Radio, menyoroti pewarna yang digunakan untuk mencetak gambar pada lembaran makanan.
Berdasarkan standar keamanan pangan nasional China, pewarna makanan tidak diperbolehkan pada produk berbahan pati, tetapi dapat digunakan pada permen.
Salah satu produsen camilan ini menyatakan produk tersebut dibuat sebagai permen. Meski demikian, Dr He Sijun dari Mindong Hospital, Fujian Medical University, mengingatkan pentingnya memperhatikan jenis pewarna yang digunakan pada makanan.
"Kertas dari tepung beras dan pewarna makanan memang aman dikonsumsi. Namun, jika menggunakan pewarna industri, hal itu berpotensi membahayakan fungsi hati dan ginjal anak," ujar He.
Ia juga menyarankan orang tua agar membatasi konsumsi camilan murah pada anak. Kini banyak otoritas setempat yang sudah melarang pedagang untuk tidak menjual camilan berbentuk tugas sekolah tersebut.
Simak Video "Video AS Setop Pewarna Makanan Sintetis Berbasis Minyak Bumi"
(sob/adr)