Mengenal Beras Fortifikasi, Ini Bedanya dengan Beras Biasa

Mengenal Beras Fortifikasi, Ini Bedanya dengan Beras Biasa

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Rabu, 16 Sep 2026 13:00 WIB
Ilustrasi beras
Foto: Getty Images/iStockphoto/Fahroni
Jakarta -

Beras fortifikasi kini menjadi sorotan usai Mentan Andi Amran Sulaiman membongkar peredaran produk ini yang diduga tidak sesuai dengan klaim pada kemasan. Lantas, sebenarnya apa itu beras fortifikasi?

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap sejumlah merek beras fortifikasi yang masuk dalam pemeriksaan karena diduga memasarkan produk yang tidak sesuai dengan klaim pada kemasannya.

Dikutip dari detikFinance (16/9), pemeriksaan menunjukkan 25 dari total 27 merek beras fortifikasi dinyatakan tidak memenuhi syarat, sedangkan dua merek lainnya memenuhi ketentuan. Merek yang diungkap banyak yang populer di pasaran, seperti Topi Koki, Anak Raja, dan Sumo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, sebenarnya apa itu beras fortifikasi? Pembahasan mengenai jenis beras ini pernah ditayangkan dalam unggahan YouTube Badan Perlindungan Konsumen Nasional (16/12/2025). Narasumber Prof. Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Si dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengungkap beras fortifikasi itu sebenarnya sama dengan beras biasa.

ADVERTISEMENT

"Hanya diperkaya dengan zat gizi tertentu. Kenapa perlu diperkaya? Apakah beras itu tidak bergizi? Beras (sudah) bergizi. Kandungan karbohidratnya tidak ada masalah sama sekali, kandungan vitamin dan mineralnya juga masih ada," kata Prof. Drajat.

Namun, di Indonesia khususnya, orang banyak yang memilih beras yang sudah disosoh. Dimana kondisi beras terlihat putih dan bersih. "Makin putih (orang) makin senang," lanjutnya.

Sayangnya proses menyosoh beras itu menghilangkan beberapa zat gizi karena di bagian kulit terluar dari beras, justru mengandung banyak vitamin.

Ilustrasi berasFoto: Getty Images/iStockphoto/Fahroni

Prof. Drajat kemudian menjelaskan apa itu fortifikasi. "Fortifikasi adalah penambahan zat gizi pada pangan tertentu (harus yang dikonsumsi banyak orang agar efektif). Karena tujuan fortifikasi ini adalah untuk perbaikan gizi. Pemerintah hanya mengatur yang fortifikasi wajib karena ada yang sifatnya tidak wajib," jelasnya,

Beras fortifikasi umumnya menyasar golongan menengah ke bawah untuk memperbaiki status gizi mereka. Dalam prosesnya pun ada sejumlah aturan, salah satunya tidak boleh mengubah harga terlalu besar karena konsumen akan menanggung biayanya sendiri.

"Beras adalah pangan yang kalau difortifikasi paling mahal. Tambahan fortifikasinya bisa 6-7% (dari jumlah awal) dengan yang ditambahkan juga beras," lanjut Prof. Drajat.

Beras yang digunakan untuk fortifikasi itu bukanlah beras sintetis. Prof. Drajat mengungkap, "Beras fortifikasi dibuat dari beras pecah, beras menir, yang kemudian ditepung, dan ditambah zat gizi yang sesuai standar."

Di Indonesia ada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Rice Premix Kernel atau campuran beras kernel. Lalu ada juga SNI untuk beras fortifikasi.

Prof. Drajat mengungkap tujuan utama beras fortifikasi adalah mengatasi masalah anemia dan pada akhirnya stunting (berat badan kurang pada bayi baru lahir). Jadi, bahan yang kerap ditambahkan adalah zat besi, zinc, dan asam folat.

Selain itu, mengutip dsm-firmenich (30/10/2025), perusahaan global asal Swiss-Belanda yang berfokus pada ilmu pengetahuan di bidang nutrisi, kesehatan, dan kecantikan, bahan yang juga ditambahkan untuk fortifikasi beras juga termasuk vitamin B dan vitamin A.

Berbagai studi menunjukkan bahwa beras fortifikasi dapat mengurangi anemia hingga 34% di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Hal ini membuktikan efektivitasnya dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat.

Mengenai proses fortifikasi beras, Halodoc (29/6/2026) mengungkap, umumnya dilakukan dengan teknologi ekstrusi panas, di mana debu beras dicampur dengan vitamin dan mineral, lalu dicetak kembali menyerupai bentuk butiran beras asli (disebut kernel).

Kernel nutrisi ini kemudian dicampurkan dengan beras biasa dengan rasio tertentu (biasanya 1:100). Saat dikonsumsi secara rutin, beras fortifikasi terbukti mampu meningkatkan kadar hemoglobin dan mencegah masalah perkembangan pada anak-anak.

Ilustrasi mencuci berasFoto: Getty Images/oykuozgu

Idealnya beras fortifikasi tidak dicuci terlalu bersih karena dapat membuang nutrisi berharga yang ada di permukaannya. Cuci secukupnya saja untuk menghilangkan debu kotoran.

Beras fortifikasi juga bagus dikonsumsi bersama sumber vitamin C agar penyerapan zat besi lebih maksimal. Kamu bisa mengonsumsi nasi bersama lauk yang disiram perasan jeruk nipis atau minum jus jeruk setelah makan.

Terakhir, gunakan air dengan takaran tepat untuk masak nasi. Hal ini agar air terserap sepenuhnya ke dalam butiran nasi. Jika ada air tajin yang dibuang, maka sebagian vitamin B yang larut air juga akan ikut terbuang.

(adr/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads