Tembiluk sering dikira cacing, padahal termasuk keluarga kerang. Tembiluk yang dikonsumsi di beberapa daerah ini juga punya beberapa fakta unik.
Indonesia punya banyak bahan makanan unik yang tumbuh dari lingkungan sekitar. Salah satunya berasal dari kawasan pesisir dan hutan mangrove.
Bentuknya mungkin membuat sebagian orang ragu untuk mencicipinya. Namun, bagi masyarakat tertentu, hewan ini sudah lama dikenal sebagai bahan pangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keunikannya tak hanya terletak pada bentuk, tetapi juga habitat dan cara hidupnya. Hewan ini bahkan memiliki peran tersendiri dalam ekosistem mangrove.
Berikut ini 5 fakta tembiluk dilansir dari berbagai sumber:
Walaupun bentuknya mirip cacing, tembiluk sebenarnya masuk dalam golongan kerang. Foto: Istimewa |
1. Tembiluk Tergolong Kerang
Tembiluk sering disebut cacing kayu karena tubuhnya panjang dan menyerupai cacing. Padahal, hewan bernama ilmiah Bactronophorus thoracites ini termasuk moluska bivalvia.
Secara taksonomi, tembiluk masuk famili Teredinidae yang dikenal sebagai kelompok kerang penggerek kayu. Bentuk tubuhnya memang tidak seperti kerang yang biasa ditemukan di meja makan.
Tubuh tembiluk berwarna putih pucat dan bentuknya memanjang. Ukurannya juga cukup besar, bahkan peneliti mencatat panjangnya dapat mencapai 56 centimeter.
2. Hidup dalam Kayu Mangrove
Tembiluk memiliki habitat yang cukup unik karena hidup di dalam kayu, terutama kawasan mangrove. Hewan ini dapat ditemukan pada batang atau akar mangrove yang telah mati dan membusuk.
Untuk mendapatkan tembiluk, kayu yang menjadi tempat tinggalnya perlu dibelah. Dari luar, kayu tersebut bahkan bisa terlihat tetap mulus meski bagian dalamnya telah dilubangi.
Tembiluk menggunakan kayu sebagai tempat tinggal sekaligus sumber makanan. Aktivitas tersebut membuatnya dikenal sebagai wood-boring shipworm atau kerang penggerek kayu.
3. Punya Peran bagi Lingkungan
Kebiasaan menggerek kayu membuat tembiluk kerap dianggap merugikan manusia. Kelompok shipworm memang dapat merusak struktur kayu seperti kapal, dermaga, dan tiang.
Namun, tembiluk juga memiliki fungsi ekologis yang penting. Aktivitasnya membantu proses penguraian kayu mati di kawasan mangrove dan ikut berperan dalam siklus karbon.
Penelitian menyebut shipworm mampu mempercepat proses penguraian kayu dibandingkan jamur atau bakteri laut. Karena itu, keberadaannya tidak semata-mata bisa dilihat sebagai hama.
Tembiluk banyak dikonsumsi oleh masyarakat wilayah pesisir. Foto: Istimewa |
4. Kuliner Masyarakat Pesisir
Di sejumlah daerah Indonesia, tembiluk bukan sekadar hewan yang ditemukan di mangrove. Hewan ini dikonsumsi masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Utara, Papua, dan Sulawesi.
Di Kalimantan Utara, tembiluk dikenal sebagai salah satu pangan yang dikonsumsi masyarakat Tidung dan Belusu. Dilansir dari RRI, (4/9/2026), hewan ini menjadi kuliner unik yang diwariskan dalam tradisi masyarakat setempat.
Tembiluk juga dikenal dengan nama berbeda di sejumlah daerah. Di Papua dan sebagian wilayah Indonesia timur, Bactronophorus thoracites lebih sering disebut tambelo atau temilok.
5. Bisa Dikonsumsi Mentah
Tembiluk dikenal sebagai pangan yang dapat dikonsumsi mentah oleh masyarakat yang terbiasa menyantapnya. Penelitian di Asia Tenggara juga mencatat hewan ini sebagai salah satu jenis shipworm yang dimakan.
Cara mengonsumsinya menjadi bagian menarik dari tradisi kuliner masyarakat pesisir. Namun, keamanan konsumsi tetap perlu diperhatikan karena tembiluk berasal dari lingkungan mangrove dan perairan.
Penelitian mengenai tembiluk juga masih terus dilakukan, termasuk terkait kandungan dan potensi biologisnya. Jadi, berbagai klaim kesehatan tentang tembiluk sebaiknya tidak dianggap sebagai khasiat medis yang sudah terbukti.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN