Foto Ayam Goreng AI Ini Malah Bikin Gagal Lapar, Netizen Auto Komplain

Foto Ayam Goreng AI Ini Malah Bikin Gagal Lapar, Netizen Auto Komplain

Riska Fitria - detikFood
Kamis, 23 Jul 2026 16:00 WIB
Gambar menu ayam goreng pakai AI.
Foto: Threads/The Sun My
Jakarta -

Restoran ayam goreng ini menuai kritik usai memakai gambar menu buatan AI. Netizen menyebut tampilannya aneh, menjijikkan, hingga picu trypophobia.

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) kini semakin marak dimanfaatkan di berbagai sektor, termasuk industri kuliner.

Banyak restoran hingga kafe mulai memanfaatkan teknologi ini untuk membuat deskripsi menu maupun gambar menu sebagai materi promosi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, tidak semua hasilnya mendapat respons positif dari pelanggan. Belum lama ini, sebuah jaringan restoran ayam goreng lokal di Malaysia menjadi sorotan setelah gambar menu buatannya yang dihasilkan AI viral di media sosial Threads.

Nasi Lemak Disebut 'Nanyang Coconut Rice' SingapuraIlustrasi nasi lemak. Foto: Site Culinary/Visual

Nama restoran tersebut tidak diungkap, tetapi netizen memberi klu bahwa restoran ayam goreng lokal tersebut merupakan jaringan besar di Malaysia, lapor The Sun My (21/7).

ADVERTISEMENT

Alih-alih menarik perhatian pelanggan, visual makanan tersebut justru memicu gelombang kritik karena dinilai terlihat aneh dan mengganggu.

Unggahan yang menjadi viral memperlihatkan gambar ayam goreng dengan tekstur tidak wajar. Permukaannya dipenuhi tonjolan-tonjolan kecil yang membuat tampilannya dianggap menyeramkan.

Banyak netizen menilai restoran tersebut kurang berusaha menghadirkan foto makanan yang layak, padahal merupakan jaringan restoran yang cukup besar.

Gambar menu ayam goreng pakai AI.Gambar menu ayam goreng pakai AI. Foto: Threads/The Sun My

Salah satu pengguna Threads mengaku merasa terganggu setiap kali melihat menu tersebut saat hendak memesan makanan.

"Tolonglah, ini bukan warung pinggir jalan. Masa tidak bisa pakai foto makanan yang benar?" tulisnya.

Ia juga menambahkan, "Saya benar-benar merasa terganggu melihat gambar ini. Selama proses memesan, saya bahkan tidak sanggup melihat menunya karena tampilannya sangat menjijikkan."

Meski begitu, sebagian netizen menegaskan bahwa mereka tidak sepenuhnya menolak penggunaan AI dalam promosi restoran.

Menurut mereka, teknologi tersebut tetap bisa dimanfaatkan selama hasil akhirnya terlihat natural dan dikerjakan dengan lebih serius.

"Masalahnya bukan karena memakai AI, tetapi hasilnya seperti kurang usaha. Harusnya tetap dibuat semirip mungkin dengan makanan aslinya," tulis seorang netizen.

Banyak komentar lain juga menyoroti warna gambar yang terlalu mencolok serta tekstur makanan yang tampak tidak realistis.

Beberapa bahkan mengaku visual tersebut memicu rasa tidak nyaman karena menyerupai pola lubang atau tonjolan yang rapat.

Sejumlah pengguna mengaitkannya dengan trypophobia, yaitu kondisi ketika seseorang merasakan ketidaknyamanan, jijik, atau stres saat melihat kumpulan lubang, benjolan, atau pola berulang.

Perdebatan ini pun kembali memunculkan diskusi mengenai penggunaan AI di industri makanan dan minuman.

Meski teknologi dapat membantu proses pemasaran menjadi lebih cepat dan murah, banyak pelanggan berharap restoran tetap mengutamakan kualitas visual yang realistis.

Sebab, foto makanan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi selera sekaligus keputusan konsumen sebelum membeli hidangan.



(raf/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads