Santapan astronot saat menjalani misi di luar angkasa selalu menarik perhatian. Terbaru, European Space Agency mengungkap potensi bahan makanan ini untuk jadi makanan masa depan astronot.
Makan di luar angkasa tentu berbeda dengan di bumi karena kondisi tanpa gravitasi. Di luar angkasa, makanan dan minuman bisa melayang sehingga astronot harus menggunakan kemasan dan peralatan khusus agar makanan tidak berhamburan dan merusak peralatan.
Persoalan lain, astronot juga perlu memenuhi kebutuhan nutrisinya. Mereka tetap membutuhkan menu bergizi seimbang untuk menjaga kesehatan, kekuatan otot, dan kepadatan tulang selama berada di lingkungan mikrogravitasi.
Kondisi ini pun menciptakan tantangan sekaligus peluang untuk memilih menu yang tepat bagi astronot di luar angkasa. Makanan yang dibawa harus tahan lama, aman, dan tetap menggugah selera.
Membicarakan santapan astronot di luar angkasa, European Space Agency (ESA) buka suara. Lewat unggahan TikTok @europeanspaceageny (18/7), pihaknya mengungkap potensi makanan para astronot yang praktis dan menyehatkan.
Dalam sebuah misi ke Mars, ESA mengatakan pasokan ulang butuh waktu lama untuk sampai. Karena itu, mereka butuh makanan berbobot ringan, tinggi nutrisi, dan memungkinkan untuk disantap di ruang tanpa gravitasi.
Serangga ternyata memenuhi semua kriteria tersebut. "Serangga kaya akan protein, asam lemak, zat besi, dan vitamin B. Bahkan kadang menyamai atau melampaui nutrisi yang terkandung dalam nutrisi daging sapi dan ikan," ujar juru bicara ESA.
Keunggulan lainnya, serangga berukuran kecil dan budi dayanya tidak sulit. Namun apakah serangga benar-benar ideal dikonsumsi di luar angkasa?
Faktanya, serangga sudah 'dibawa' ke luar angkasa sejak 1947. Saat itu lalat buah menjadi binatang pertama yang sampai ke luar angkasa dan berhasil bertahan.
"Sejak saat itu, lalat buah telah menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di lingungan mikrogravitasi, dari telur hingga lalat dewasa mampu menghasilkan keturunan," kata juru bicara ESA.
Sebelumnya, beberapa serangga juga terkenal dengan rasanya yang lezat. Contoh saja jangkrik seperti kacang yang smoky dan ulat hongkong (mealworm) terasa seperti bacon.
Astronot ESA, Samantha Cristoforetti, bahkan pernah makan cereal bar berbahan tepung jangkrik saat ke International Space Station tahun 2022.
"Saat ini kami merancang eksperimen baru untuk memahami sepenuhnya bagaimana serangga berkembang di orbit karena sebelum mereka dijadikan santapan astronot, kamu harus memastikan serangga bisa menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di luar angkasa," tutup perwakilan ESA.
(adr/adr)