Sering jadi isian es dan dessert, nata de coco punya proses pembuatan yang unik. Di balik itu, ada beberapa hal yang menjadi titik kritis kehalalannya.
Nata de coco jadi salah satu makanan kenyal yang sering hadir dalam minuman hingga hidangan penutup. Teksturnya yang unik membuatnya digemari banyak orang.
Di balik rasanya yang segar, nata de coco memiliki proses pembuatan yang cukup menarik. Mulai dari fermentasi hingga pemilihan bahan, semuanya berperan penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya soal rasa, nata de coco juga punya cerita panjang sebelum sampai di meja makan. Yuk, kenali asal-usul, kandungan, hingga kehalalannya.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut fakta nata de coco:
1. Asal-muasal Nata de Coco
Ilustrasi nata de coco Foto: TikTok @iamegamei |
Nata de coco dikenal sebagai makanan berbentuk jeli putih dengan tekstur kenyal yang menyegarkan.
Dikutip dari buku Pembuatan Nata de Coco" (2010) karya Timbul Sugihartono produk ini dibuat melalui proses fermentasi sari kelapa dengan bantuan bakteri
Nata pertama kali dikembangkan oleh seorang pria asal Filipina pada 1973 dan mulai diperkenalkan dua tahun setelahnya. Secara ilmiah, nata adalah selulosa hasil sintesis gula dari bakteri Acetobacter xylinum.
Selain air kelapa, bakteri tersebut juga bisa digunakan pada bahan lain seperti nanas, singkong, dan limbah tahu. Nama nata pun mengikuti bahan dasarnya, seperti nata de pinna dan nata de cassava.
2. Bahan-bahan Pembuatan Nada de Coco
Nata de coco dibuat dari air kelapa tua dan bakteri Acetobacter xylinum sebagai bahan utama. Bakteri ini berperan membentuk lapisan nata melalui proses fermentasi.
Selain bahan utama, pembuatan nata membutuhkan gula pasir, ZA, dan asam cuka. Bahan tambahan tersebut membantu mempercepat pertumbuhan bakteri selama proses fermentasi.
Bibit bakteri Acetobacter xylinum bisa dibuat dari sari buah nanas yang difermentasi. Nanas matang dipilih karena secara alami mengandung bakteri tersebut dalam jumlah kecil.
Sari nanas difermentasi dengan gula dan air selama beberapa minggu hingga menghasilkan bibit bakteri. Gula berfungsi sebagai sumber makanan agar bakteri tumbuh lebih optimal.
3. Kandungan Gizi Nata de Coco
Nata de Coco Foto: shutterstock |
Dikutip dari Fatsecret dalam 100 gram nata de coco, kandungan energinya sekitar 70-100 kalori, tergantung tambahan gula.
Selain itu, juga mengandung karbohidrat sekitar 19 gram dan gula sekitar 16 gram. Kandungan protein serta lemaknya sangat rendah atau bahkan hampir tidak ada.
Nata de coco juga berasal dari selulosa hasil fermentasi sehingga lebih banyak terdiri dari air dan serat. Namun, nilai gizinya bisa berbeda tergantung proses produksi dan sirup tambahan yang digunakan.
4. Titik Kritis Kehalalan Nata de Coco
Nata de coco tidak otomatis haram karena penggunaan urea atau ZA dalam fermentasi. Bahan ini hanya berfungsi sebagai sumber nitrogen untuk membantu pertumbuhan bakteri.
Titik kritis halal justru perlu diperhatikan dari bahan tambahan lain yang digunakan. Misalnya gula, enzim, atau karbon aktif dalam proses pembuatan, lapor LPPOM MUI.
Jika memakai enzim atau karbon aktif, sumber bahan tersebut harus dipastikan halal. Karbon aktif dari tumbuhan atau batu bara aman, tetapi dari tulang hewan perlu dicek asalnya.
5. Proses Pengolahan dan Sertifikasi
Enzim mikrobial juga harus diperhatikan media pertumbuhannya agar tidak berasal dari bahan haram atau najis. Proses produksi perlu dilakukan sesuai standar pangan.
Sebelum dikonsumsi, nata de coco harus melalui proses pemurnian agar bersih dari sisa media fermentasi. Kebersihan proses menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan produk.
Produk nata de coco yang sudah memenuhi standar dan memiliki sertifikasi halal dapat dikonsumsi dengan lebih tenang. Konsumen tetap disarankan memilih produk yang jelas status halalnya.
Simak Video "Video: Sanksi Penarikan untuk 7 Produk Pangan Mengandung Babi Bersertifikat Halal"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN