Warteg atau warung Tegal dilaporkan kepada Menteri Keuangan mengalami penurunan omzet. Di balik kehadirannya, warteg menyimpan fakta unik.
Laporan mengenai penurunan omzet sejumlah warung tegal atau warteg belakangan menarik perhatian pemerintah. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, bahkan menyebut hendak menelusuri terkait laporan omzet warteg yang menurun.
Pasalnya, warteg atau warung Tegal telah lama menjadi ikon penyelamat kelaparan warga berkat harga menunya yang murah meriah. Menunya komplet, porsinya yang besar, serta harganya yang merakyat membuat warteg diandalkan berbagai lapisan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama puluhan tahun, warung makan sederhana ini menjadi tempat bergantung jutaan pekerja, mahasiswa, hingga keluarga untuk makan dengan harga terjangkau. Di balik kehadirannya yang ikonik, warteg juga menyimpan beberapa fakta unik.
Berikut 5 fakta warteg yang menjadi ikon 'makanan warga':
Warteg awalnya dibuka oleh perantau dari Tegal ke Jakarta. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
1. Berasal dari Perantau Asal Tegal
Nama warteg merupakan singkatan dari Warung Tegal, merujuk pada daerah asal para pelaku usaha tersebut, yaitu Tegal. Sejarah warteg berkaitan erat dengan tradisi merantau masyarakat Tegal ke Jakarta sejak 1960-an.
Pada masa pembangunan besar-besaran di Jakarta, banyak warga Tegal bekerja sebagai buruh proyek. Untuk memenuhi kebutuhan makan para pekerja dengan biaya murah, keluarga mereka membuka warung makan sederhana di sekitar lokasi proyek.
Seiring waktu, warteg tidak hanya melayani pekerja bangunan, tetapi juga mahasiswa, karyawan, hingga masyarakat umum. Kini warteg dapat ditemukan hampir di seluruh kota besar Indonesia dan telah menjadi simbol kuliner rakyat.
2. Tawarkan Puluhan Jenis Lauk Setiap Hari
Salah satu daya tarik utama warteg adalah banyaknya pilihan makanan yang tersedia dalam satu tempat. Di balik etalase kaca khas warteg, pelanggan dapat menemukan berbagai lauk dan sayur.
Menu yang umum ditemukan, antara lain tempe orek, telur balado, ayam goreng, ikan asin, semur jengkol, sayur asem, sayur lodeh, hingga aneka tumisan. Keragaman menu ini membuat pelanggan dapat menyesuaikan pilihan makanan dengan selera maupun harganya.
Selain itu, sistem prasmanan sederhana memungkinkan proses pelayanan berlangsung cepat. Konsep praktis inilah yang membuat warteg menjadi solusi makan cepat bagi masyarakat perkotaan.
3. Dikelola oleh Keluarga
Faktanya banyak warteg yang dikelola secara bergantian oleh anggota keluarga. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan masih jaman dilakukan sampai sekarang.
Menurut sejumlah catatan sejarah warteg, usaha ini awalnya dijalankan oleh keluarga-keluarga dari desa Sidapurna, Sidakaton, dan Krandon di Tegal. Mereka menerapkan sistem pergiliran pengelolaan setiap beberapa bulan sekali.
Saat satu anggota keluarga bertugas menjaga warung, anggota lainnya kembali ke kampung halaman. Model bisnis berbasis kekeluargaan tersebut membuat modal dan risiko usaha dapat dibagi bersama.
Pilihan menu yang beragam dengan harga terjangkau membuatnya diandallkan berbagai lapisan masyarakat. Foto: Site Culinary/Visual |
4. Favorit Berbagai Lapisan Masyarakat
Warteg tak hanya tempat makan, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan berbagai kalangan masyarakat. Di satu meja yang sama, seseorang bisa duduk berdampingan dengan pekerja kantoran, mahasiswa, sopir, hingga pedagang.
Pengunjung warteg tak hanya mereka yang ingin berhemat. Bahkan ada warteg yang secara khusus menyajikan makanan-makanna premium dengan harga lebih tinggi dari warteg pada umumnya.
Salah satunya ialah Warteg Gang Mangga yang cukup populer. Menu yang lebih lengkap serta kualitas rasa yang lebih premium menawarkan warteg dengan harga yang lebih tinggi dan menyasar kalangan menengah ke atas.
5. Filosofi Warteg
Banyak orang menganggap tampilan warteg sekadar sederhana dan fungsional, padahal beberapa elemen bangunannya memiliki makna simbolis yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu ciri khas warteg adalah keberadaan dua pintu di sisi kanan dan kiri bangunan. Dalam kepercayaan sebagian pengelola warteg, dua pintu tersebut melambangkan banyak jalan rezeki.
Selain itu, etalase kaca besar yang memajang makanan membuat pelanggan dapat langsung melihat seluruh pilihan lauk tanpa harus bertanya satu per satu. Hal ini membuat proses transaksi menjadi lebih cepat dan efisien.
Simak Video "Ruma Nasi, Warteg Modern yang Suguhkan Fusion Food Rp 25 Ribuan"
[Gambas:Video 20detik] (dfl/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN