Populasi ikan sidat (belut Jepang) yang terancam punah membuat Jepang memperkenalkan belut hasil penangkaran sendiri. Belut tersebut dijual mulai dari Rp 900 ribu - Rp 1 jutaan per ekor!
Belut merupakan makanan yang umum dikonsumsi di beberapa daerah, salah satunya Jepang. Biasanya hewan ini diolah dengan cara dipanggang dengan olesan saus lalu bisa langsung dinikmati.
Sayangnya, ilmuwan yang disebutkan situs VN Express 925/5) mengungkap bahwa populasi belut menurun di seluruh dunia. Sebagian besar faktornya terkait dengan aktivitas manusia, seperti polusi saluran air, perusakan lahan basah, bendungan pembangkit listrik tenaga air, dan penangkapan ikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Jepang sendiri, hewan ini sangat sulit berkembang biak tanpa campur tangan manusia. Para peneliti Jepang baru berhasil mengembangbiakkan belut Jepang atau dikenal sebagai ikan sidat dari telur di lingkungan laboratorium pada 2010. Namun masalahnya, biayanya sangat mahal.
Belut Jepang atau ikan sidat dengan olahan kabayaki pertama kali diluncurkan 29 Mei mendatang. Foto: Getty Images/iStockphoto/Nopadol Uengbunchoo |
Sejak saat itu, para peneliti berupaya mengurangi biaya sangat besar dalam melakukan perkembangbiakkan belut Jepang ini dari telur agar hasil akhir harga jualnya bisa diterima di pasar.
Dengan berbagai terobosan teknologi kecil, biaya per ekor pun akhirnya turun sekitar 1.800 yen (Rp 200.728) dari biaya budidaya yang tadinya berkisar 40.000 yen (Rp 4,4 juta) per ekor selama tahun fiskal 2016. Harga ini pun disebut-sebut turun lebih dari satu juta yen
Memang harganya masih 3 hingga 4 kali lebih tinggi dari belut yang ditangkap liar. Namun, Yasutaka Okamoto, petinggi badan perikanan mengungkap jika ini saat tepat menguji reaksi pasar. Proyek perkembangbiakkan belut dari telur ini lantas menyatukan para peneliti, pemerintah, universitas, dan sektor swasta.
Di Jepang belut dikenal sebagai ikan sidat atau sering kali diterjemahkan secara umum sebagai "belut" air tawar. Namun secara biologis dan bentuk fisiknya, hewan ini adalah ikan sidat yang memiliki sirip dan sisik sangat halus. Tekstur daging ikan sidat juga lembut, empuk, dan tidak kenyal sama sekali.
Ikan sidat di Jepang pun biasanya disajikan dalam bentuk kabayaki atau dipanggang dengan saus manis. Kabayaki yang menggunakan belut Jepang hasil budidaya pun akan dijual mulai 29 Mei lalu di sebuah toko di Tokyo.
Yamada Suisan, perusahaan budidaya tersebut mengaku bahwa ini adalah yang pertama di dunia. Mereka juga mengaku jika langkah ini sangat tepat untuk meningkatkan komerisalisasi belut budidaya sepenuhnya. Soal harga, dua ekor belut kabayaki dijual sekitar 9.000 yen (sekitar Rp 1 jutaan). Harga ini dianggap sepadan dengan produk belutnya yang bekualitas tinggi.
(aqr/adr)


KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN