Starbucks Korea Dikecam Gegara Promo Tumbler, CEO Sampai Dicopot!

Starbucks Korea Dikecam Gegara Promo Tumbler, CEO Sampai Dicopot!

Riska Fitria - detikFood
Jumat, 22 Mei 2026 12:30 WIB
Starbucks Korea Dikecam Gegara Promo Tumbler, CEO Sampai Dicopot!
Foto: Must Share News
Jakarta -

Promosi 'Tank Day' Starbucks Korea menuai kecaman karena dianggap menyinggung tragedi Gwangju 1980. CEO Starbucks Korea pun resmi dipecat.

Promosi bertajuk 'Tank Day' yang dibuat Starbucks Korea menuai kecaman besar di Korea Selatan.

Dampaknya, CEO Starbucks Korea, Sohn Jeong-hyun, resmi dicopot dari jabatannya setelah kampanye tersebut dianggap menyinggung tragedi berdarah Pemberontakan Gwangju 1980.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kontroversi ini bermula pada 18 Mei 2026, bertepatan dengan hari peringatan Gerakan Demokratisasi Gwangju, seperti dikutip dari Must Share News (21/5).

StarbucksStarbucks Ilustrasi. Foto: Getty Images/Sean Gallup


Starbucks Korea saat itu menggelar promosi diskon untuk lini tumbler bernama 'Tank' dengan slogan 'Tak! on the desk'.

ADVERTISEMENT

Namun, banyak warga Korea Selatan menilai penggunaan kata 'tank' dan slogan tersebut sangat tidak sensitif terhadap sejarah kelam negara itu.

Istilah 'tank' disebut sering dipakai di komunitas sayap kanan Korea sebagai julukan untuk mantan Presiden Chun Doo-hwan.

Sosok itu dikenal karena memberlakukan darurat militer pada 1979 dan melakukan penindakan keras terhadap demonstrasi rakyat di Gwangju pada Mei 1980.

Starbucks Korea Dikecam Gegara Promo Tumbler, CEO Sampai Dicopot!Gwangju pada Mei 1980 Foto: Hankyoreh

Saat itu militer bahkan mengerahkan tank dan melakukan penembakan terhadap warga sipil hingga menyebabkan ratusan orang tewas dan terluka.

Sementara slogan 'Tak! on the desk' juga menuai kritik karena dianggap merujuk pada kasus kematian aktivis mahasiswa Park Jong-cheol pada 1987.

Kala itu kepala kepolisian Korea Selatan memberikan penjelasan palsu bahwa korban meninggal setelah kepalanya membentur meja dengan bunyi 'tak'.

Dalam bahasa Korea, 'tak' merupakan tiruan bunyi benda yang terbentur. Kemarahan publik pun meluas di media sosial.

Banyak netizen mengunggah aksi membuang merchandise Starbucks hingga menghapus akun membership mereka sebagai bentuk boikot.

Saham Shinsegae Group, konglomerat Korea Selatan yang menjadi pemilik mayoritas Starbucks Korea, juga dilaporkan ikut melemah akibat kontroversi tersebut.

Logo Starbucks CorporationLogo Starbucks Foto: Ari Saputra

Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, turut mengkritik Starbucks Korea melalui media sosial X.

Ia meminta perusahaan tersebut menunjukkan tanggung jawab moral, administratif, hukum, dan politik yang pantas atas insiden itu.

Tak lama setelah polemik mencuat, Shinsegae Group langsung memberhentikan Sohn Jeong-hyun pada hari yang sama saat promosi berlangsung.

Chairman Shinsegae Group, Chung Yong-jin, juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

"Starbucks Korea memulai kampanye pemasaran yang tidak pantas dan seharusnya tidak pernah terjadi," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kejadian tersebut merupakan "kesalahan yang tidak bisa dimaafkan karena meremehkan rasa sakit dan pengorbanan mereka yang berjuang demi demokrasi Korea Selatan."

Permintaan maaf juga datang dari kantor pusat Starbucks di Seattle, Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, Starbucks menyebut mereka sangat menyesal atas insiden pemasaran yang tidak dapat diterima. Mereka juga memastikan promosi tersebut telah dihentikan.

Perusahaan juga akan melakukan investigasi penuh serta memperketat standar evaluasi kampanye dan pelatihan karyawan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.



(raf/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads