Industri Puding Jepang Terancam, Dampak Konflik Iran Mulai Terasa

Industri Puding Jepang Terancam, Dampak Konflik Iran Mulai Terasa

Dita Aliccia Armadani - detikFood
Selasa, 05 Mei 2026 13:30 WIB
Purin atau puding Jepang
Foto: Sora News 24
Jakarta -

Krisis pasokan bahan baku akibat konflik Iran mulai berdampak pada industri makanan di Jepang. Salah satunya produksi puding atau purin, yang terancam terganggu karena keterbatasan nafta sebagai bahan utama pembuatan kemasan plastik.

Melansir dari Sora News 24 (30/4), puding atau purin merupakan salah satu hidangan penutup yang cukup populer di Jepang. Berbeda dari puding di beberapa negara lain, purin memiliki tekstur lebih padat dengan lapisan karamel di bagian atas, mirip dengan crème caramel atau flan.

Sejumlah produsen memperkirakan produksi purin bisa terhenti dalam waktu dekat, jika kondisi keterbatasan nafta berlanjut. Kondisi ini berkaitan dengan konflik di Iran, yang berdampak pada pasokan minyak dan turunannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jepang sebelumnya memiliki cadangan minyak yang diperkirakan cukup untuk beberapa bulan. Namun, pelaku industri menilai ketersediaan tersebut kemungkinan akan lebih cepat habis dari perkiraan awal.

Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah gangguan pada pasokan nafta, bahan penting dalam produksi plastik. Nafta digunakan untuk membuat berbagai jenis kemasan, termasuk wadah plastik yang dipakai untuk puding.

ADVERTISEMENT

Sejumlah produsen bahkan telah mengindikasikan bahwa mereka mungkin tidak dapat melanjutkan produksi pada akhir Mei jika kondisi ini berlanjut.

Meski terdapat alternatif seperti kertas atau kaca, keduanya juga memiliki keterbatasan. Wadah kertas umumnya tetap memerlukan lapisan berbasis nafta agar tahan air, sementara produksi kaca membutuhkan energi panas dalam jumlah besar yang juga bergantung pada sumber energi.

Masalah ini tidak hanya berdampak pada produsen puding, karena plastik digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Potensi gangguan serupa dapat memengaruhi berbagai sektor lain.

Beberapa tanggapan publik menyoroti bahwa banyak produk di supermarket bergantung pada kemasan plastik, sehingga keterbatasan bahan baku dapat berdampak luas.

Sebagai perbandingan, sebelum penggunaan kemasan modern, masyarakat Jepang memiliki cara berbeda dalam membeli makanan, seperti tahu.

Konsumen biasanya membawa wadah sendiri ke penjual, atau membeli dari pedagang keliling yang menjajakan produknya langsung ke lingkungan tempat tinggal. Situasi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada plastik memiliki peran besar dalam sistem distribusi makanan saat ini.

Jika pasokan bahan baku terganggu, tidak hanya produksi, tetapi juga cara penyajian dan distribusi produk makanan dapat ikut terpengaruh.

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads