Kronologi Warung Mie Babi Ditolak Warga Sukoharjo, Dianggap Meresahkan!

Kronologi Warung Mie Babi Ditolak Warga Sukoharjo, Dianggap Meresahkan!

Atiqa Rana - detikFood
Sabtu, 25 Apr 2026 13:00 WIB
Warung Mie dan Babi Tepi Sawah
Foto: detikJateng / Instagram @miebabitepisawah
Jakarta -

Warung Mie dan Babi Tepi Sawah di Sukoharjo, Jawa Tengah, viral di media sosial karena mendapat penolakan dari warga setempat. Begini kronologi selengkapnya!

Baru-baru ini sebuah warung makan yang berada di kawasan Sukoharjo, Jawa Tengah ramai disorot. Warung tersebut dikenal menawarkan beragam kuliner non-halal dengan mie topping daging babi sebagai andalan.

Belum lama buka, warung tersebut langsung ramai menarik perhatian banyak pelanggan. Pelanggan yang mampir juga bisa menikmati makanannya dengan suasana tepi sawah yang syahdu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun ramai digandrungi pelanggan, warung makan Mie dan Babi Tepi Sawah ini mendapat penolakan warga setempat. Warga tidak berkenan di wilayahnya ada yang menjual kuliner non-halal, bahkan sampai dianggap meresahkan.

ADVERTISEMENT

Akses ke warung pun sempat ditutup warga sekitar oleh tumpukan tanah hingga spanduk penolakan terpasang.

Dirangkum dari detikJateng dan sumber lainnya (25/03/2026), berikut kronologinya.

1. Warung Mie Babi 'Anyar' di Sukoharjo

Warung Mie & Babi Tepi Sawah merupakan usaha kuliner yang baru dibuka sekitar bulan Maret 2026. Pemiliknya, Jodi Sutanto, membuka usaha tersebut di lokasi yang dulunya merupakan kolam pemancingan. Lokasinya memang agak masuk ke dalam, terletak di jalur persawahan dan belakang pabrik yang jauh dari pemukiman warga.

Secara legalitas, usaha kuliner ini tidak melanggar regulasi. Mereka sudah mengantongi izin usaha lengkap dari Pemkab Sukoharjo, serta label produk non-halal juga jelas terpasang.

2. Spanduk Penolakan Terpasang di Sekitar Warung

Sejumlah spanduk penolakan kuliner nonhalal di tepi Jalan Setya Dharma, Dukuh Sudimoro, Desa Parangjoro, Grogol, Sukoharjo, Senin (20/4/2026).Sejumlah spanduk penolakan kuliner nonhalal di tepi Jalan Setya Dharma, Dukuh Sudimoro, Desa Parangjoro, Grogol, Sukoharjo, Senin (20/4/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

Sejak dibuka, warung ini berhasil menggaet banyak pelanggan. Tidak sedikit pelanggan yang penasaran ingin mampir dan mencicipi langsung mie dan babi di warung tersebut.

Sayangnya, usaha kuliner yang baru beroperasi satu bulan itu mendapat penolakan dari warga sekitar. Beberapa warga sekitar melaporkan keberatan dengan warung makan ini karena menjual menu non halal di lingkungan penduduk yang mayoritas Muslim.

Merasa resah dengan kehadiran warung mie babi tersebut, spanduk penolakan pun terpasang di ujung jalan masuk.

"WARGA SEKITAR MENOLAK WARUNG NON-HALAL," tulis spanduk tersebut yang dilengkapi dengan gambar menyerupai kepala babi disilang merah.

Diketahui spanduk penolakan tersebut sudah dipasang kedua kalinya.

Dikutip dari detikJateng (25/04), Jodi Sutanto, selaku pengelola Warung Mie dan Babi Tepi Sawah hanya bisa pasrah soal spanduk tersebut.

Saat awal pembukaan, warungnya memang sempat didatangi ketua RT dan RW setempat untuk tutup. Warungnya juga pernah didatangi tim gabungan dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo yang menanyai terkait izin usaha.

Namun, secara legalitas warung makan ini memang tidak ada masalah karena semua izin usaha lengkap dan pihak warung juga sudah menyertakan keterangan non-halal.

3. Akses Jalan Ditutup Tanah

Suasana jalan menuju warung Mie dan Babi Tepi Sawah, di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (17/4/2026).Suasana jalan menuju warung Mie dan Babi Tepi Sawah, di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (17/4/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

Masalah tak berhenti di situ. Pada Kamis (16/4), Jodi Sutanto mengungkap sekitar pukul 09.00 WIB, pihak mereka melihat akses jalan ke warungnya ditutup tumpukan tanah. Saat itu warung masih tutup, karena bukanya di pukul 12.00 WIB siang.

"Kemarin orang kami waktu mau keluar, melihat ada dam truk, yang sudah selesai menurunkan tanah. Saat orang kita datang, truk sudah pergi. Akibatnya, menutup akses jalan ke warung kami tertutup," ungkap Jodi.

Menurut Jodi, jalan menuju warungnya merupakan jalanan umum dan akses satu-satunya menuju warung. Selain itu, jalanan tersebut juga biasa digunakan petani yang pergi ke sawah.

Tidak diketahui siapa yang meletakkan tumpukan tanah di jalan tersebut maupun alasan yang melatarbelakangi aksi ini. Namun, ia menganggap aksi tersebut merupakan persekusi terhadap usahanya

4. Penjelasan Kepala Desa

Menanggapi aksi tersebut, Kepala Desa Parangjoro, Hardiman membantah jika tumpukan tanah tersebut sengaja diletakkan untuk menutup akses ke warung Mie & Babi Tepi Sawah. Menurutnya, tumpukan tanah itu diletakkan hanya untuk meninggikan jalan.

Memang warung ini sempat menjadi polemik, tetapi menurut Hardiman, klarifikasi sudah dilakukan untuk memfasilitasi warga dan pemilik warung. Ia juga menyatakan bila hal yang dipermasalahkan adalah pihak warung yang tidak melakukan izin kepada warga sekitar terkait pembukaan usaha tersebut.

"Mungkin dianggap diperbolehkan menjual daging babi, tapi di suatu tempat ada aturannya, kulonuwun dulu minta pendapat. Kalau jualan ini seperti apa, lingkungan bisa menerima atau tidak. Kami juga tidak ditembusi, tahu-tahu buka. Kemudian ada gejolak di masyarakat merasa kebaratan adanya mie babi," ujar Hardiman kepada detikJateng.

5. Mediasi Dilakukan Sebagai Jalan Tengah

Mediasi polemik keberadaan kuliner non-halal Desa Parangjoro, di Menara Wijaya Setda Sukoharjo, Selasa (21/4/2026)Mediasi polemik keberadaan kuliner non-halal Desa Parangjoro, di Menara Wijaya Setda Sukoharjo, Selasa (21/4/2026) Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

Pemkab Sukoharjo mencari jalan tengah melalui musyawarah warga, meski secara hukum usaha sudah legal.

Jodi Sutanto, pengelola dan pemilik warung mengungkap terjadi lonjakan pembeli usai warungnya viral mendapat protes dari warga setempat. Meskipun begitu, dia siap menempuh mediasi bersama warga sekitar untuk mencari solusi terbaik.

Dalam mediasi tersebut, ia berharap ada jalan tengah terbaik untuk menjawab aspirasi warga maupun keberlangsungan usahanya.

Mediasi lalu digelar pada Selasa (21/4) yang dihadiri oleh pemilik warung dan perwakilan warga. Dari mediasi tersebut, Pemkab Sukahorjo mencoba meminta pemilik warung untuk mengganti menunya ke menu halal. Sayangnya, mediasi pertama ini tidak menghasilkan keputusan apa pun.

Ketua RW 10, Bondowi mengungkap jika warga merasa keberatan dengan adanya usaha kuliner non-halal di sekitar lingkungan mereka yang mayoritas muslim. Warga setempat sebenarnya tidak ingin mengganggu pengusaha asalkan yang dijual halal.

"Prinsipnya warga kan orang muslim, kita tidak mau mengganggu orang. Prinsipnya sederhana, silahkan berusaha, yang penting yang halal saja. Yang halal kan masih banyak. Kalau memang keberatan, izinnya mohon dicabut. Terus terang itu sudah menimbulkan keresahan, kita umat muslim terus terang resah adanya non-halal," kata Bandowi kepada awak media, Selasa (21/4/2026).

Sampai saat ini Pemkab Sukoharjo masih menunggu jawaban pemilik warung Mie dan Babi Tepi Sawah atas mediasi yang dilakukan sebelumnya. Pemkab juga mengaku tidak memberikan batas waktu terkait jawaban dari pemilik warung. Dia berharap segera ada titik temu dari polemik yang terjadi, sehingga masalah bisa terselesaikan.

Ditemui terpisah oleh detikJateng, Kuasa Hukum Mie dan Babi Tepi Sawah, Cucuk Kustiawan menurutkan pihaknya butuh waktu mempertimbangkan keinginan warga. Sebab, perubahan tersebut membutuhkan persiapan yang matang. Pihak warung harus melakukan kalkulasi ulang dari sisi bisnis, ekonomi, dan lain sebagainya.

"Apalagi jenis usaha yang dilakukan pak Jodi ini sudah turun-temurun, dan tidak serta merta berubah begitu saja," ujar Cucuk.

6. Warung Mie dan Babi Tepi Sawah Masih Beroperasi

Warung Mie dan Babi Tepi SawahWarung Mie dan Babi Tepi Sawah yang masih ramai dikunjungi pelanggan. Foto: Instagram @miebabitepisawah

Terlepas dari polemik ini, warung makan non halal di Sukoharjo itu masih aktif berjualan. Dibuktikan dari media sosialnya @miebabitepisawah, yang beberapa hari kebelakang mengunggah video seputar kondisi warung yang masih ramai didatangi pelanggan.

Dalam unggahan terbarunya (24/04), warung terlihat meja dan kursi di warung mie ini penuh dengan pelanggan. Para pelayan juga sibuk memotong daging babi untuk disajikan ke pelanggan.

Unggahan tersebut ramai dibanjiri komentar netizen. Sebagian besar netizen memberi dukungan semangat kepada warung ini.

Salah satu netizen berkomentar, "Semangat! Tuhan memberkati usahanya Pak Jodi... Makin dilarang makin rame makin laris... Amin."

"Maju tak gentar. Babinya bener-bener cetar," ujar netizen lain.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Kuah Unik Soto Arab Betawi dan Pelepas Dahaga Glek & Go"
[Gambas:Video 20detik] (aqr/sob)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads