Fakta Unik Tokyo Banana, Oleh-oleh Ikonik yang 'Tak Asli' dari Tokyo

Fakta Unik Tokyo Banana, Oleh-oleh Ikonik yang 'Tak Asli' dari Tokyo

Dita Aliccia Armadani - detikFood
Jumat, 10 Apr 2026 15:30 WIB
Tokyo Banana
Foto: CNN Travel
Jakarta -

Tokyo Banana dikenal sebagai salah satu oleh-oleh paling populer dari Tokyo. Kue berbentuk pisang dengan isian krim ini banyak diburu wisatawan. Namun di balik popularitasnya, ada fakta menarik soal pisang yang sebenarnya tidak tumbuh di Tokyo.

Melansir CNN Travel (11/8/2025), setiap tahun, ratusan ribu kotak Tokyo Banana terjual karena dikenal sebagai camilan khas ibu kota Jepang. Namun menariknya, camilan ini tidak ada hubungannya dengan kondisi alam Tokyo, karena kota tersebut tidak ditumbuhi pohon pisang.

Berbeda dengan banyak makanan Jepang lain yang berasal dari bahan lokal dan tradisi panjang, seperti Kyoto yang terkenal dengan matcha-nya dan Aomori yang terkenal dengan apelnya, Tokyo Banana justru lahir dari kebutuhan pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat Tokyo berkembang menjadi kota besar dan tujuan wisata global pada abad ke-20, kota ini tidak memiliki satu makanan khas yang benar-benar ikonik. Kondisi ini berbeda dengan Kyoto yang punya sejarah kuliner panjang. Sebagai contoh, di sana ada restoran soba sejak 1702 dan bahkan hotel tertua di dunia yang berdiri sejak tahun 705.

Seiring berkembangnya Tokyo sebagai destinasi wisata besar, perusahaan makanan Grapestone melihat peluang untuk menciptakan produk yang bisa mewakili kota tersebut.

ADVERTISEMENT

Dari sinilah Tokyo Banana lahir. Produk ini memang dirancang sebagai camilan khas untuk wisatawan, bukan berasal dari tradisi lama.

Hasilnya adalah kue lembut berbentuk pisang dengan isian krim rasa pisang. Pemilihan rasa pisang juga bukan tanpa alasan. Pisang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jepang.

Bagi generasi terdahulu, pisang merupakan buah impor yang cukup mewah. Sementara bagi generasi muda, pisang sering dikaitkan dengan kenangan menyenangkan, seperti bekal saat perjalanan sekolah.

Selain itu, Tokyo Banana juga erat kaitannya dengan budaya omiyage, yaitu kebiasaan membawa oleh-oleh makanan setelah bepergian. Di Jepang, oleh-oleh biasanya berupa makanan yang harus segera dikonsumsi dan sering kali menjadi ciri khas suatu daerah.

Meski begitu, target utama Tokyo Banana justru wisatawan asing. Hal ini sengaja dilakukan sejak awal, apalagi setelah Grapestone mendapat kesempatan membuka toko di Bandara Haneda pada 1990-an. Dengan nama 'Tokyo' dan penggunaan bahasa Inggris, produk ini cepat melekat sebagai simbol kota bagi turis internasional.

Di media sosial, popularitasnya semakin meningkat. Banyak wisatawan berburu varian rasa unik atau membagikan pengalaman mencoba camilan ini. Meski tidak semua orang menyukai rasanya, Tokyo Banana tetap jadi oleh-oleh yang wajib dibeli saat ke Tokyo.

Untuk mempertahankan popularitas, Grapestone rutin menghadirkan varian baru seperti lemon, sakura, hingga madu. Mereka juga berkolaborasi dengan karakter populer seperti Pikachu, Hello Kitty, Doraemon, dan Chiikawa

Bahkan Grapestone membuat produk turunan Tokyo Banana seperti KitKat rasa Tokyo Banana. Kini, Tokyo Banana disebut sebagai oleh-oleh makanan paling populer di Tokyo.

Meski tidak berasal dari bahan lokal atau tradisi lama, camilan ini berhasil dikenal luas berkat konsep dan strategi pemasaran yang tepat.

Bahkan, perusahaan menyebut jika semua kue yang terjual dalam setahun disusun, panjangnya bisa mencapai Samudra Pasifik hingga Amerika Serikat!

(adr/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads