Harga daging babi di China anjlok hingga terendah dalam 8 tahun. Bahkan harganya sama dengan sayur. Ini penyebabnya!
Harga daging babi di China tengah menjadi sorotan. Pasalnya, harga komoditas ini dilaporkan turun hingga menyentuh level terendah dalam delapan tahun terakhir.
Fenomena ini bahkan memicu munculnya istilah 'sayur lebih mahal dari daging' di tengah masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip laporan Kantor Berita Taiwan, Central News Agency (CNA), media pemerintah China Economic Daily menyebut harga daging babi saat ini terasa sangat terjangkau.
Ilustrasi daging babi. Foto: iStock |
Data menunjukkan, pada pekan keempat Maret, harga babi hidup secara nasional berada di angka Rp 23.000 per kilogram, turun 29,8% dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, harga daging babi tercatat Rp 10.600 per kilogram atau turun 17,8% secara tahunan, seperti yang dikutip dari orientaldaily (7/4).
Kondisi ini membuat sebagian jenis sayuran dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan daging babi. Meski begitu, media tersebut menekankan bahwa tidak semua sayuran lebih mahal.
Baik di tingkat grosir maupun eceran, rata-rata harga sayur nasional masih lebih rendah dibandingkan daging babi.
Fenomena ini terjadi akibat kombinasi fluktuasi siklus harga babi dan pergerakan harga sayuran yang dipengaruhi musim serta jenis komoditas.
"Ini adalah fenomena struktural yang tidak jarang terjadi," tulis media tersebut.
Ilustrasi sayuran di pasar tradisional. Foto: iStock |
Dari sisi pasokan, pemerintah memastikan ketersediaan sayuran di pasar tetap melimpah dan beragam, tanpa adanya kelangkaan.
Pada periode yang sama, rata-rata harga grosir 28 jenis sayuran berada di angka Rp Rp 10.600 per kilogram, turun 1,2% dari pekan sebelumnya dan hanya naik tipis 0,4% secara tahunan.
Lalu, apa penyebab utama harga daging babi anjlok? Disebutkan bahwa pasokan yang berlimpah bertemu dengan periode permintaan yang sedang lesu.
Dalam siklus industri peternakan babi, kondisi harga rendah ini telah berlangsung cukup lama.
Situasi tersebut turut memberi tekanan besar pada peternak. Selain harga jual yang turun, mereka juga menghadapi kenaikan harga pakan.
Sejak Oktober tahun lalu, industri peternakan babi bahkan dilaporkan mengalami kerugian secara menyeluruh.
Melihat kondisi ini, pemerintah melalui media resminya mengimbau para peternak untuk menyesuaikan produksi.
"Peternak harus secara tegas mengeliminasi induk babi dengan produktivitas rendah dan menurunkan kapasitas yang terlalu tinggi ke tingkat yang wajar," tutupnya.
Mereka juga diminta untuk tetap rasional dalam melihat kondisi pasar serta menyesuaikan waktu penjualan ternak.
(raf/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN