Hidangan khas lebaran selalu meramaikan suasana hari raya. Namun ternyata, ada makanan khas lebaran dari masa lalu yang kini sudah langka, lho!
Lebaran identik dengan hidangan khas yang menggugah selera. Ketupat, opor ayam, hingga rendang seolah menjadi menu wajib yang tak pernah absen di meja makan saat hari raya tiba.
Namun di balik itu, ada sejumlah hidangan tradisional yang dulunya juga populer saat Lebaran. Sayangnya, beberapa hidangan tersebut kini mulai langka disajikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan gaya hidup hingga sulitnya bahan baku membuat beberapa makanan ini perlahan ditinggalkan. Padahal, kuliner-kuliner ini menyimpan cita rasa khas dari berbagai daerah Indonesia.
Berikut ini 5 hidangan lebaran yang mulai langka dilansir dari beberapa sumber:
Sayur babanci dahulu menjadi salah satu hidangan lebaran khas Betawi, sayangnya kini mulai langka. Foto: Instagram aniesbaswedan/fery.farhati |
1. Sayur Babanci
Sayur babanci merupakan kuliner khas Betawi yang dulu sering hadir saat Lebaran. Meski disebut 'sayur', hidangan ini justru tidak mengandung sayuran sama sekali.
Hidangan ini menyajikan olahan daging dengan kuah santan kaya rempah. Keunikan sayur babanci terletak pada penggunaan hingga 21 jenis bumbu.
Sayangnya, banyak bahan seperti akar angin atau kedaung kini sulit ditemukan yang membuat penyajiannya semakin langka. Selain itu, proses memasaknya yang kompleks juga membuat hanya sedikit orang yang masih mampu membuatnya.
2. Geseng Bangsong
Geseng bangsong adalah hidangan khas Banyuwangi. Geseng bangsong lebih sering disajikan saat acara besar seperti perayaan hari raya Idul Fitri.
Olahan ini menggunakan daging itik (entok) dengan cita rasa pedas dan asam yang khas. Namun, keberadaan geseng bangsong kini semakin jarang ditemukan.
Hidangan ini hanya ditemukan di daerah tertentu dan tidak banyak diwariskan ke generasi berikutnya. Faktor keterbatasan wilayah dan minimnya regenerasi menjadi penyebab utama kelangkaannya.
3. Sambai Oen Peugaga
Dari Aceh, ada sambai oen peugaga. Hidangan lebaran ini memiliki keunikan berupa campuran daun-daunan yang mirip salad.
Di Aceh, sajian ini biasanya tidak pernah absen saat ramadan hingga lebaran. Salah satu alasan yang membuatnya istimewa adalah penggunaan puluhan jenis daun, bahkan bisa mencapai 40 lebih bahan.
Namun hal tersebut juga menjadi tantangan penyajian sambai oen peugaga. Bahan yang sangat banyak dan hanya tersedia musiman, membuat hidangan ini kini semakin sulit ditemukan di luar daerah asalnya.
Kue satu yang populer sebagai suguhan, kini sudah mulai langka terlihat disajikan. Foto: Instagram |
4. Kue Satu
Kue satu adalah jajanan klasik berbahan dasar tepung kacang hijau yang dipadatkan. Dulu, kue ini hampir selalu hadir sebagai suguhan Lebaran di rumah-rumah.
Nama 'kue satu' berasal dari proses pembuatannya yang harus dicetak satu per satu. Di rumah-rumah orang Betawi, kue ini menjadi salah satu suguhan untuk tamu yang bersilturahmi di atas meja.
Teksturnya yang pedat memiliki rasa manis yang khas sebab penggunaan kacang hijau sebagai bahan utamanya. Kini, kue ini mulai ditinggalkan karena kalah populer dengan kue kering modern seperti nastar atau kastengel.
5. Kue Putu Ratih
Kue putu ratih berasal dari Kalimantan, biasa disajikan untuk menyambut tamu saat Lebaran. Kue ini terbuat dari bahan dasar tepung beras parutan kasar, parutan kelapa muda, dan gula merah.
Kue putu ratih memiliki rasa manis tradisional yang khas. Kudapan ini paling banyak disajikan oleh orang Melayu Sambas dan menjadi salah satu warisan kuliner secara turun temurun.
Sayangnya, kini tidak banyak orang yang bisa membuatnya karena membutuhkan teknik khusus. Hal ini membuat kue putu ratih semakin langka dan sulit ditemui.
Simak Video "Mengenal Makanan Tradisional Jambi, Lekat dengan Makna Gotong Royong"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN