5 Cara Melakukan Intermittent Fasting dan Manfaatnya untuk Kesehatan

5 Cara Melakukan Intermittent Fasting dan Manfaatnya untuk Kesehatan

Dita Aliccia Armadani - detikFood
Senin, 16 Mar 2026 04:00 WIB
Alarm clock with IF (Intermittent Fasting) 16 and 8 diet rule and weight loss concept.-Diet plan concept
Foto: Getty Images/Sasithorn Phuapankasemsuk
Jakarta -

Semakin banyak orang melakukan Intermittent fasting (IF). Pola makan ini tak jauh berbeda dari berpuasa, tapi banyak orang belum tahu bagaimana melakukannya dengan tepat. Begini caranya.

Intermittent fasting (IF) adalah pola makan yang mengatur waktu makan dengan berpuasa. Dalam metode ini, seseorang tidak mengonsumsi kalori selama periode tertentu, biasanya antara 12 hingga 40 jam dan hanya boleh minum air, kopi tanpa gula, atau minuman tanpa kalori selama waktu puasa.

Dilansir dari Health Shots (25/5), metode ini semakin populer karena dianggap membantu menurunkan berat badan sekaligus meningkatkan kesehatan metabolisme. Berikut beberapa cara melakukan intermittent fasting beserta manfaatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alarm clock with IF (Intermittent Fasting) 16 and 8 diet rule and weight loss concept.-Diet plan conceptKunci utama dari intermittent fasting ialah pembatasan waktu makan yang ketat. Foto: Getty Images/Sasithorn Phuapankasemsuk

1. Time-Restricted Eating (Makan dalam Waktu Terbatas)

Metode ini mengharuskan seseorang berpuasa minimal 12 jam setiap hari dan makan dalam waktu tertentu. Salah satu yang paling populer adalah metode 16:8, yaitu berpuasa selama 16 jam dan makan dalam periode 8 jam. Dalam waktu makan tersebut, seseorang biasanya 2 hingga 3 kali makan. Metode ini sering dipilih karena relatif mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Diet 5:2

Dalam metode 5:2, seseorang makan seperti biasa selama lima hari dalam seminggu. Sementara pada dua hari lainnya, asupan kalori dibatasi sekitar 500-600 kalori per hari saja. Cara ini dianggap lebih fleksibel karena tidak mengharuskan seseorang berpuasa setiap hari.

ADVERTISEMENT

Baca juga: Sudah Siap Mudik? Ini Rekomendasi 5 Oleh-oleh Makanan 'Kalcer' dari Jakarta

3. Eat-Stop-Eat

Metode ini dilakukan dengan berpuasa selama 24 jam penuh selama 1 atau 2 kali dalam seminggu. Contohnya, seseorang makan malam pukul 20.00 dan baru makan lagi pada waktu yang sama keesokan harinya. Metode ini biasanya lebih cocok bagi orang yang sudah terbiasa menjalani pola puasa.

4. Alternate-Day Fasting

Pada metode ini, seseorang menjalani puasa setiap 2 hari sekali. Artinya, ada hari ketika seseorang berpuasa dan hari berikutnya makan secara normal. Metode ini cukup menantang karena membutuhkan disiplin yang tinggi.

5. Warrior Diet (Diet Prajurit)

Warrior diet merupakan bentuk intermittent fasting yang cukup ketat. Dalam metode ini, seseorang hanya mengonsumsi sedikit buah dan sayuran mentah pada siang hari, lalu makan satu porsi besar makanan di malam hari. Waktu makan biasanya hanya sekitar 4 jam, sedangkan waktu puasanya bisa mencapai sekitar 20 jam.

Baca juga: Sebelum Aldi's Burger Viral, Aldi Taher Pernah Gagal Jualan Mie Ayam

Intermittent Fasting Weight Loss dieting conceptSelain menurunkan berat badan diet IF juga punya banyak manfaat. Foto: Getty Images/iStockphoto/clubfoto

Selain membantu menurunkan berat badan dengan mengurangi asupan kalori, intermittent fasting juga memiliki beberapa manfaat kesehatan. Metode ini dapat membantu menjaga kesehatan jantung dengan menurunkan tekanan darah, kolesterol jahat, dan trigliserida.

Intermittent fasting juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga membantu mengontrol kadar gula darah dan menurunkan risiko diabetes tipe 2. Selain itu, puasa dalam jangka waktu tertentu dapat membantu tubuh memperbaiki sel yang rusak dan mengurangi peradangan.

Tak hanya itu, intermittent fasting juga berpotensi mendukung kesehatan otak karena dapat mengurangi stres oksidatif dan merangsang pertumbuhan sel saraf. Dengan berbagai manfaat tersebut, intermittent fasting bisa menjadi salah satu pilihan pola makan sehat jika dilakukan dengan tepat dan disesuaikan dengan kondisi tubuh.

Sebelum menjadikan intermittent fasting sebuah kebiasaan, lebih baik kamu berkonsultasi dulu ke ahli kesehatan agar menyesuaikan dengan kondisi tubuh dan tujuan yang ingin digapai.




(dfl/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads