Meski bisa meraup Rp 25 juta sehari, sebuah warung nasi ayam pilih tutup beroperasi karena sebuah alasan. Begini kisahnya.
Banyak pemilik usaha kuliner menutup gerai mereka karena berbagai hal. Salah satunya karena kondisi ekonomi yang buruk, entah karena pendapatan yang kurang atau masalah mahalnya biaya sewa.
Hal inilah yang dialami sebuah warung nasi ayam di Singapura. Pada Agustus 2025, OK Chicken Rice dan Humfull Laksa di Edgedale Plains, Punggol, mengumumkan kabar penutupannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilik warung, Daniel Tan, sadar banyak menerima hal positif dari pelanggan terhadap warung makannya. Bahkan dia mencatat warung nasi tersebut telah mendapat bintang 4,7 di Google Review.
Banyak faktor menyebabkan restoran tersebut akhirnya tutup. Foto: Instagram |
Meskipun warung tersebut mencapai keberhasilan ini, Daniel Tan mengungkap akhirnya gerai mereka harus ditutup. Menurut Tan, banyak faktor perlu dipertimbangkan untuk menyeimbangkan kualitas dan kecepatan operasi di warung tersebut.
Pemilik warung ini juga perlu membayar staf secara adil dan mengelola semua biaya, termasuk biaya sewa. Berbicara kepada Mothership, Tan menjelaskan bisnis usahanya relatif ramai. Mendapat penghasilan yang terbilang besar, rata-rata SGD 2.000 atau sekitar Rp 25 juta per hari.
Sayangnya nominal tersebut masih belum mencukupi. Tan menjelaskan setelah dikurangi biaya operasi dan lain sebagainya, gerainya masih merugi sekitar SGD 1.000 (Rp 12,6 juta) sampai SGD 3.000 (Rp 37,9 juta) per bulan, lapor theonlinecitizen.com pada Jumat, (15/8/2025).
Biaya terbesar datang dari biaya sewa dan tenaga kerja. Meskipun begitu, Tan mengaku karyawan tidak akan diberhentikan. Karyawannya akan dipindahkan ke gerai lain di 309C Punggol Walk.
Penutupan restoran ini meningkatkan kekhawatiran banyak orang terkait usaha kuliner di Singapura. Foto: Instagram |
Penutupan warung makan populer ini meningkatkan kekhawatiran banyak orang atas biaya sewa tinggi kepada pemilik usaha makanan di Singapura.
Pada Mei 2025, seorang konsultan dan pembicara profesional mengangkat masalah tersebut di Facebook. Melonjaknya biaya sewa memicu diskusi tentang kesenjangan sosial dan praktik pemilik lahan yang bisa memengaruhi pedagang kecil. Biaya sewa yang semakin meningkat di Singapura juga menyebabkan penutupan lebih dari 300 gerai makanan dan minuman per bulan pada tahun 2025.
(aqr/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN