Kabar penutupan warung nasi Padang tertua di Singapura masih mencuri perhatian. Lantas, seperti apa sejarah warung bernama Warong Nasi Pariaman itu?
Hari ini (31/1/2026) merupakan hari terakhir Warong Nasi Pariaman beroperasi. Rumah makan ini punya sejarah panjang sejak didirikan oleh Haji Isrin, pria asal Pariaman, pada 1948.
Warong nasi Padang di 738 North Bridge Road ini pun semakin ramai diantre sejak pengelolanya mengumumkan tutup pada 20 Januari 2026. Banyak orang rela antre demi mencicipi terakhir kali rasa menu yang ditawarkan Warong Nasi Pariaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari The Straits Times (20/1/2026), Warong Nasi Pariaman sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka menyajikan hidangan khas dari kota pesisir Sumatera Barat, Indonesia, yang menjadi asal nama restoran ini.
Setelah Haji Isrin pensiun, National Library Board (NLB) Singapura mencatat, bisnis ini beralih ke istrinya, Hajah Rosnah pada 1992. Baru kemudian pada 1998, Warong Nasi Pariaman dikelola ke putra-putra Haji Isrin dan Hajah Rosnah yaitu Sudirman, Jumrin, dan Abdul, beserta istri-istri mereka.
Menu andalannya meliputi, rendang daging sapi, ikan bakar (ikan bakar asap), sotong kalio (cumi-cumi yang dimasak dengan kuah santan kental), dan ayam gulai (ayam yang dimasak dengan kari ala Indonesia).
Sehari-hari, proses masak di warung ini sudah mulai pukul 4 pagi. Hari Jumat merupakan hari yang sangat ramai bagi Warong Nasi Pariaman karena banyak warga Melayu yang datang setelah salat Jumat di Masjid Sultan terdekat.
Beberapa menu andalan di Warong Nasi Pariaman. Foto: Detikcom / Atiqa Rana / Diah Affrilian |
Menurut platform online Singapore Infopedia milik National Library Board, Warong Nasi Pariaman diyakini sebagai "warung tertua yang masih ada di Singapura yang menyajikan nasi padang".
Pada tahun 2016, restoran ini masuk dalam daftar penerima Penghargaan Pahlawan Warisan Budaya (Heritage Heroes Awards). Penghargaan ini menyoroti tempat makan bersejarah yang melestarikan tradisi kuliner lokal.
Kemudian pada 2021, Dewan Warisan Nasional menetapkan warung makan ini sebagai "mini-museum". Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran akan bisnis kecil dengan sejarah panjang yang seringkali diabaikan.
Mengenai penutupan warung makan, pihak Warong Nasi Pariaman tidak mengungkapkan alasan pasti. Meski begitu, isu yang beredar luas adalah terkait mahalnya biaya sewa. Seperti yang disampaikan seorang pelanggan setianya.
Muhammad Ridwan, yang tim detikFood temui (30/1), mengungkap informasi yang ia ketahui. "Di Singapura itu sewa bangunan itu dikuasai segelintir orang saja. Setiap waktu harga sewanya terus naik dan makin mahal. Makanya banyak bisnis tutup, termasuk Warong Nasi Pariaman ini. (Saya merasa) Sedih sekali karena kalau makan di sini rasanya nostalgia," ujar Ridwan.
(adr/adr)


KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN