Kopi Muria dari Warisan Tanam Paksa hingga jadi Biji Kopi Unggulan

ADVERTISEMENT

Ngopi Yuk!

Kopi Muria dari Warisan Tanam Paksa hingga jadi Biji Kopi Unggulan

Riska Fitria - detikFood
Selasa, 29 Nov 2022 07:30 WIB
Kopi muria
Foto: iStock
Jakarta -

Di Kudus, Jawa Tengah ada jenis biji kopi berkualitas. Kopi tersebut populer sebagai kopi Muria yang merupakan hasil warisan turun temurun sejak 1908.

Indonesia merupakan termasuk negara penghasil kopi terbesar. Beberapa daerah di Indonesia pun dikenal sebagai komoditas unggulan, salah satunya Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Kopi asal Kudus ini namanya kopi muria, itu karena tanaman kopinya ditemukan tumbuh di lereng Gunung Muria. Tepatnya berada di Desa Colo, Lau dan Japan Kecamatan Dawe Kudus.

Saat ditemukan, tanaman kopi tersebut tumbuh di atas 452 hektare tanah. Pada 2015, satu haktare dari lahan kopi itu bisa menghasilkan kopi sebanyak 1,5 - 2 ton. Ada sejarah menarik di balik tanaman kopi muria ini.

1. Berawal dari Tanam Paksa

Kopi muriaKopi muria diawali ketika adanya sistem tanam paksa. Foto: iStock

Kopi yang ditanam di sana ada yang robusta dan ada yang arabika. Adanya jenis kopi ini diawali ketika tahun 1825, di mana adanya aturan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-43, Johannes Graaf Van Den Bosch.

Saat itu, Johannes Graaf Van Den Bosch membuat rencana peraturan tanam paksa di seluruh Jawa. Kemudian, di tahun 1830-1834, masa pemerintahan Johannes mulai menerapkan sistem tanam paksa.

Tanam paksa itu dilakukan dengan dana yang sangat terbatas. Hal itu lantaran adanya peperangan di Eropa, daerah koloni di Jawa dan Pulau Sumatera.

Dikutip dari Good News From Indonesia (27/12/19), dana mereka saat itu sangat terbatas, karena peperangan di Eropa, daerah koloni di Jawa, dan Pulau Sumatera.

Baca Juga: Sering Minum Kopi Membuat Kulit Kusam dan Kendur, Ini Penyebabnya

2. Sistem Tanam Paksa Dihapuskan

Kopi muriaDi tahun 1910 pemerintah kolonial menghapuskan sistem tanam paksa dan menetapkan bagian hutan di Lereng Muria sebagai kawasan hutan. Foto: iStock

Pada 1860, Johannes membagi seluruh hutan di Pulau Jawa menjadi 13 daerah hutan. Lalu, di tahun 1910 pemerintah kolonial menghapuskan sistem tanam paksa dan menetapkan bagian hutan di Lereng Muria sebagai kawasan hutan.

Setelah itu, mulai 1920 setiap petani yang memiliki lahan kopi di tanah milik negara diberi hak memungut hasil selama 5 tahun atau yang dikenal dengan istilah Koffie Met Plukrecht (KMP).

Pada 1925, KMP tersebut kemudian dihapuskan. Namun, faktanya di daerah Colo dan Japan masih ada. Bahkan pada 1942 lahan tanaman kopi makin luas, sehingga muncul sengketa tanah hutan di dua desa tersebut.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT