ADVERTISEMENT

Semangat Hari Kartini, 5 Nenek 80 Tahun Ini Tetap Eksis Jual Makanan Tradisional

Devi Setya - detikFood
Kamis, 21 Apr 2022 13:00 WIB
Di Yogyakarta ada sejumlah kuliner yang melegenda, salah satunya kue lupis Mbah Satinem. Bahkan hingga kini kue lupis itu tetap laris manis.
Foto: Gatot Jatmiko
Jakarta -

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April. Momen ini didedikasikan untuk para wanita, termasuk para nenek yang masih semangat menjual makanan tradisional meskipun usianya sudah tidak lagi muda.

Usia tidak menghalangi para nenek ini untuk tetap semangat bekerja. Tubuhnya tak lagi kuat namun semangatnya masih membara. Usia mereka sudah lebih dari 80 tahun tapi setiap hari masih sibuk menjalani aktivitas layaknya orang-orang yang masih muda.

Para nenek ini layak mendapat julukan sebagai Kartini masa kini. Sebut saja misalnya Mbah Tuginem yang usianya sudah lebih dari 90 tahun, ia setiap pagi datang ke Pasar Watuombo, Kulonprogo untuk menjual tempe buatannya.

Atau ada juga Mbah Waginah yang tetap semangat menjual gudeg di usia hampir 100 tahun. Dan yang eksis juga ada lupis Mbah Satinem yang bahkan jadi favorit mantan Presiden Soeharto.

Berikut 5 nenek penjual makanan yang layak disebut sosok Kartini karena semangatnya:

1. Mbah Satinem


Ketika berkunjung ke Yogyakarta jangan lewatkan untuk jajan kudapan tradisional seperti lupis, cenil hingga tiwul. Salah satunya di lapak Mbah Satinem yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Yogyakarta.

Mbah Satinem tidak lagi berusia muda, saat ini usianya 78 tahun dan ia setiap hari masih berjualan menjajakan jajajan racikannya. Mengenakan kebaya tradisional, Mbah Satinem kini dibantu oleh salah satu putrinya.

Mbah Satinem sudah berjualan sejak tahun 1963, tak heran kalau pelanggannya datang dari berbagai kalangan. Wisatawan, artis bahkan sekelas mantan presiden Soeharto pun ketagihan jajanan buatan Mbah Satinem. Mbah Satinem mematok harga jajanannya ini hanya Rp 5 ribu saja.

Namanya Miskinem (80). Dia tinggal di Dusun Ngandong, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, tapi warga sekitar mengenalnya dengan sapaan Simis.Namanya Miskinem (80). Dia tinggal di Dusun Ngandong, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, tapi warga sekitar mengenalnya dengan sapaan Simis. Foto: Purwo Sumodiharjo

2. Nenek Simis

Di Pacitan ada Nenek Simis yang berjualan jajanan tradisional. Nenek berusia 80 tahun ini menjadikan poskamling sebagai lapak jualannya. Uniknya, nenek Simis hanya berjualan dua kali dalam seminggu yakni saat hari Pahing dan Kliwon dalam kalender penanggalan Jawa.

Nenek yang tinggal di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung ini mulai berjualan pukul 7 pagi. Makanan yang dijajakannya beragam mulai dari lontong pecel, lupis, kue serabi, bakwan dan pisang goreng. Semua makanan ini dibuat oleh Nenek Simis sendiri.

3. Mbah Waginah

Mbah Waginah adalah salah satu penjual gudeg Jogja yang usianya sudah sepuh. Usianya saat ini 97 tahun dan tetap masih semangat meracik dan menjual gudeg di warung sederhana yang berlokasi di Jalan Kabupaten, Km 1,5 Yogyakarta.

Meskipun tak sepopuler Mbah Lindu tapi gudeg buatan Mbah Waginah ini juga patut diacungi jempol. Setiap hari Mbah Waginah mulai menjual gudeg pukul 6 sampai 10 pagi. Resep racikan gudegnya sudah dipertahankan sejak 45 tahun lalu. Dagangannya tak selalu ramai, bahkan dalam sehari tak jarang gudegnya hanya laku 3-5 porsi namun hal ini tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berjualan.



Simak Video "Pos Ketan Legenda, Camilan Legendaris di Pasar Laron Batu"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT