Segarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak Sumono

Ajie Prasetya - detikFood Senin, 22 Mar 2021 12:00 WIB
Segarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak Sumono Foto: Ajie Prasetya/detikcom
Yogyakarta -

Dawet atau cendol selalu ada di setiap pasar tradisional termasuk Beringharjo. Dawet khas Banjarnegara buatan Pak Sumono ini tergolong legendaris.

Dawet atau cendol merupakan jenis minuman tradisional. Berupa bulatan panjang dari adonan tepung beras atau hunkue. Kemudian disajikan dengan kuah santan dan sirop gula merah.

Dawet Ayu Pak Sumono yang terletak di sebelah selatan Pasar Beringharjo ini memang patut dicoba. Berjualan sejak 1989, cita rasa dari minuman ini tentu tak perlu diragukan lagi.

Gerobak cendolnya berwarna hijau cerah dengan tulisan 'Dawet Ayu khas Banjarnegara.' Di sisinya ada gambar tokoh wayang gareng dan semar. Ciri khas gerobak dawet Banjarnegara.

Segarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak SumonoSegarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak Sumono Foto: Ajie Prasetya/detikcom

Ciri khas dawet ayu Banjarnegara, Jawa Tengah memakai tepung beras dan bentuk buliran dawetnya kecil dengan tektur kenyal lembut. Sementara nama 'dawet ayu' didapat karena penjualnya dulu gadis cantik.

Baca Juga: Ini Cerita Soal Asal-usul Nama Es Dawet Ayu Banjarnegara

Menemui gerobak dawet ayu Pak Sumono, detikcom (11/3) tak melewatkan mengulang lagi kesegaran dawet ayu ini. Dawet ayu disajikan dalam gelas plastik mungil. Terlihat dawet, santan dan sirop gula merahnya berlapis.

Setelah diaduk barulah terasa manis gurih kauh cendolnya. Dawet atau cendolnya mungil lembut mudah meluncur di tenggorokan. Apalagi ditambah es batu, makin menyegarkan!

Untuk bahan baku dalam membuat dawet ayu. Pak Sumono mengaku membuat sendiri semua dari cendolnya. Berbeda dari tempat lain yang kebanyakan membeli dawet jadi untuk diracik.

Segarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak SumonoSegarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak Sumono Foto: Ajie Prasetya/detikcom

''Untuk bahan-bahan saya bikin sendiri dan sederhana, mas. Ada gula jawa dan tepung beras untuk membuat cendol.'' katanya.

Pak Sumono ini merupakan pria asli Wonosari, Gunungkidul. Dia memutuskan merantau ke Yogya dan berjualan es Dawet Ayu kurang lebih 32 tahun lalu.

''Saya sudah berjualan dawet ayu ini sekitar dari tahun 1989. Saya berjualan biasa di sini, mas. Dulu biasa di depan Gedung Agung (Istana Negara Yogyakarta). Namun, sekarang ya di sini.'' Ujarnya.

Meskipun sudah cukup dikenal pelanggan. Namun, di masa pandemi ini dia mengaku penjualan dawet ayu mengalami penurunan omzet cukup drastis.

Segarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak SumonoSegarnya Dawet Ayu Banjarnegara Buatan Pak Sumono Foto: Ajie Prasetya/detikcom

''Biasanya sih saya jualan dulu dapat sekitar 300 sampai 500 ribu. Tapi kalau sekarang cuma sekitar 100 ribu.'' keluhnya.

Namun, meskipun demikian dia tetap yakin dan optimis bahwa ke depan semua akan baik-baik saja. Apalagi proses vaksinasi para pedagang pun sudah dilakukan seminggu sebelumnya dan dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo. Dia percaya kehidupan akan kembali normal seperti dulu setelah vaksinisasi selesai.

Pak Sumono berjualan dawet ayu ini dimulai dari jam 08.30 WIB sampai 17.30 WIB. Untuk satugelas es dawet menyegarkan ini harganya Rp 5.000 saja. Murah, menyegarkan sekaligus melestarikan kuliner lokal.

Baca Juga: Transformasi Cendol Dawet Sagu Lasah, Beda & Modern

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com