Agar Vitamin Wortel Efektif Diserap Tubuh, Diperlukan Enzim Aktif Ini

Diah Afrilian - detikFood Selasa, 22 Des 2020 08:00 WIB
- Foto: The Nation/Asia News Network/iStock
Jakarta -

Wortel dikenal sebagai sayuran yang menjadi sumber utama vitamin A yang menyehatkan. Ternyata agar vitamin ini bekerja efektif dibutuhkan enzim aktif.

Warnanya yang oranye menunjukkan bahwa wortel mengandung beta karoten yang banyak. Senyawa bioaktif ini dapat ditemukan pada sayuran dan buah-buahan yang berwarna oranye dan merah.

Penelitian yang dilakukan pada manusia dan tikus menunjukkan konversi beta-karoten ke vitamin A mengurangi kolesterol buruk dalam darah. Ini berarti beta-karoten dapat membantu melindungi tubuh terhadap perkembangan aterosklerosi, yang mengarah pada akumulasi lemak dan kolesterol di arteri. Penyakit kardiovaskular aterosklerosis adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia.

Duh! Video TikTok Ini Ajarkan Orang Untuk Potong Wortel Pakai GigiAgar Vitamin Wortel Efektif Diserap Tubuh, Diperlukan Enzim Aktif Ini Foto: @steel.jobe/TikTok

Para peneliti dari Illinois, Amerika melakukan dua penelitian untuk lebih memahami efek beta-karoten pada kesehatan jantung. Mereka menegaskan pentingnya penelitian tersebut tetapi ada identifikasi langkah penting dalam prosesnya.

Beta karoten dikonversi ke vitamin A dengan bantuan enzim yang disebut beta-karoten oksigenase 1 (BCO1). Variasi genetik menentukan apakah tubuh memiliki versi BCO1 yang kurang lebih aktif. Orang dengan enzim yang kurang aktif bisa membutuhkan sumber lain untuk vitamin A dari makanan mereka.

Menurut Science Daily (12/12) penelitian pertama yang diterbitkan dalam jurnal Nutrisi. Mereka melakukan analisa sampel darah dan DNA dari 767 orang yang sehat pada rentang usia 18 hingga 25 tahun. Seperti yang diperkirakan, para peneliti menemukan korelasi antara aktivitas BCO1 dan tingkat kolesterol jahat.

Baca Juga: Kulit Mudah Berjerawat? Sebaiknya Rutin Konsumsi 5 Makanan Ini

"Orang-orang yang memiliki varian genetik yang terkait dengan membuat enzim BCO1 lebih aktif memiliki kolesterol yang lebih rendah dalam darah mereka. Itu pengamatan pertama kami," kata Amengual.

Untuk menindaklanjuti temuan ini, Amengual dan rekan penelitinya melakukan penelitian kedua, yang diterbitkan dalam Journal of Lipid Research dengan objek penelitian menggunakan tikus.

"Dalam penelitian terhadap manusia, kami melihat bahwa kolesterol lebih tinggi pada orang yang tidak banyak menghasilkan vitamin A. Untuk mengetahui apakah pengamatan itu memiliki efek dalam jangka panjang, kita harus menunggu 70 tahun untuk melihat apakah mereka mengembangkan kardiovaskular. Dalam kehidupan nyata, itu tidak bisa dilakukan. Makanya kami menggunakan hewan untuk penelitian tertentu, sehingga kami bisa mempercepat prosesnya," kata Amengual.

"Temuan utama penelitian pada tikus mereproduksi apa yang kami temukan pada manusia. Kami melihat bahwa ketika kita memberikan beta-karoten pada tikus, mereka memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah. Tikus-tikus ini mengembangkan lesi aterosklerosis yang lebih kecil, atau plak, di arteri mereka. Ini berarti bahwa tikus yang diberi makan beta-karoten lebih terlindungi terhadap aterosklerosis daripada mereka yang memberi makan diet tanpa senyawa bioaktif ini," kata Amengual.

Dalam penelitian kedua, para peneliti juga menyelidiki jalur biokimia dari proses-proses ini, menentukan di bagian tubuh mana efek ini terjadi.

"Kami mempersempitnya ke hati sebagai organ yang bertugas memproduksi dan mengeluarkan lipoprotein ke aliran darah, termasuk lipoprotein yang dikenal sebagai kolesterol jahat. Kami mengamati bahwa pada tikus dengan kadar vitamin A yang tinggi, sekresi lipid ke dalam aliran darah melambat," kata Amengual.

Mengetahui bagaimana enzim BCO1 berkaitan dengan kolesterol memiliki implikasi penting terhadap efeknya pada tubuh. Kadar beta karoten tinggi dalam darah dikaitkan dengan manfaat baik untuk kesehatan. Tetapi juga bisa menjadi tanda adanya enzim BCO1 yang kurang aktif dan tidak mengubah beta-karoten yang dikonsumsi menjadi vitamin A.

Amengual mengungkapkan sekitar 50% populasi manusia tidak memiliki enzim yang cukup aktif. Hal ini berarti tubuh mereka akan lebih lambat dalam mengolah vitamin A dari sumber tanaman dan mereka perlu mendapatkan nutrisi langsung dari sumber protein hewani seperti susu, atau keju.

Baca Juga: Wow! Bungkus Makanan Ini Terbuat dari Wortel yang Enak Dimakan



Simak Video "Ngopi dan Ngemil Sehat ala Growell Coffee Senopati"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com