Sah! Budaya Hawker Singapura Terdaftar Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Diah Afrilian - detikFood Jumat, 18 Des 2020 16:00 WIB
Budaya Hawker Singapura Terdaftar Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO Foto: Getty Images/joyt
Jakarta -

Singapura punya wisata kuliner yang tidak main-main. UNESCO telah memutuskan budaya hawker Singapura sebagai warisan budaya tak benda.

Beberapa negara di Asia punya wisata kuliner kaki lima yang menjadi daya tarik utama para wisatawan. Biasanya banyak makanan-makanan unik yang dijajakan di sini. Salah satunya Singapura.

UNESCO sebagai lembaga yang membawahi hal-hal terkait budaya melihat budaya jajanan kaki lima atau hawker ini sebagai sebuah warisan budaya. Budaya hawker di Singapura ini sudah berlangsung sejak tahun 1960-an. Para pedagang melanjutkan dan menyempurnakan resepnya secara turun temurun ke anak cucunya.

Dalam proses virtual yang berlangsung pada 16 Desember lalu, Komite Internasional yang terdiri dari 24 anggota dengan sepakat menerima pengajuan Singapura. Proses ini memakan waktu 3 menit setelah hampir 3 tahun dilakukan pertimbangan oleh Badan Warisan Nasional, Badan Lingkungan Nasional dan Federasi Asosiasi Pedagang.

Ketika pengajuan Singapura memenuhi semua kriteria, maka diputuskan bahwa tidak perlu ada perdebatan tentang hal tersebut pada sesi ke-15 oleh Komite Antarpemerintah. Ditetapkannya budaya jajanan Singapura sebagai warisan budaya ini berarti bahwa Singapura sekarang memiliki koleksi pertamanya dalam daftar warisan budaya tak benda.

Budaya Hawker Singapura Terdaftar Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCOBudaya Hawker Singapura Terdaftar Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO Foto: Getty Images/joyt

Dilansir melalui The Straits Time (17/12), pencatatan budaya jajanan Singapura ke dalam daftar UNESCO menambah panjang daftar warisan budaya yang sekarang sudah mencapai 463 daftar. Hal ini juga berarti bahwa 2 budaya di Singapura telah dicatatkan UNESCO. Budaya pertama datang dari Singapore Botanic Garden yang telah dicatatkan pada 2015.

Baca Juga: 7 Makanan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, Wajib Dicoba!

Edwin Tong selaku Menteri Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda, memberikan sambutan singkat kepada publik internasional. Kesempatan bersejarah pada saat budaya hawker Singapura dinobatkan sebagai budaya tak benda yang kemudian disusul oleh pengumuman secara resmi.

"Budaya hawker Singapura adalah sumber kebanggaan bagi Singapura dan semua warga Singapura. Ini mencerminkan warisan hidup dan multikulturalisme kami, dan merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari semua orang di Singapura terlepas dari usia, ras, atau latar belakang," kata Edwin Tong.

Memiliki budaya hawker dalam daftar UNESCO, membuat Singapura berkomitmen untuk melindungi dan mempromosikannya. Negara ini harus menyerahkan laporan setiap enam tahun sekali ke UNESCO untuk menunjukkan upaya yang dilakukan untuk menjaga dan mewariskan budaya hawker ke generasi mendatang.

"Saya berterima kasih kepada semua hawker dan warga Singapura atas dukungan mereka yang luar biasa dari nominasi ini. Kami berjanji untuk melakukan bagian kami untuk menjaga warisan budaya tak berwujud kami," lanjut Edwin Tong.

Baik Presiden Halimah Yacob dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengungkapkan rasa terima kasih mereka melalui laman media sosial Facebook. Madam Halimah mengatakan budaya hawker telah membentuk identitas Singapura dalam banyak hal dan berkontribusi pada keragaman masyarakat multikultur Singapura.

"Terima kasih terbesar harus diberikan ke generasi hawker untuk menyehatkan perut dan roh bangsa. Pengakuan ini tidak akan datang tanpa keringat, kerja keras, dan dedikasi mereka terhadap profesi mereka," kata Lee Hsien Loong.

Yeo Hiang Meng, presiden Federasi Asosiasi Pedagang (FMAS) bersama dengan Badan Warisan Nasional dan Badan Lingkungan Nasional memimpin pengajuan UNESCO. Ia menyatakan hasilnya akan memberikan dorongan bagi para hawker baik lokal maupun internasional.

Budaya Hawker Singapura Terdaftar Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCOBudaya Hawker Singapura Terdaftar Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO Foto: Getty Images/joyt

"Bagi para hawker kami ini adalah pengakuan atas dedikasi mereka untuk menyempurnakan kerajinan mereka dan kontribusi mereka terhadap warisan makanan Singapura yang kaya. FMAS akan terus bekerja sama dengan pihak berwenang untuk melihat cara-cara untuk meremajakan dan mempertahankan perdagangan jajanan dan menjaga budaya jajanan kami," kata Yeo Hiang Meng.

Perkembangannya akan dilakukan secara berkala untuk sektor jajanan di sini. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Singapura mengaku sulit untuk menarik anak muda ke bisnis yang sangat ramai terutama harus bekerja 16 jam di kios-kios panas dan sempit.

Pihak berwenang telah berusaha melalui program pelatihan dan subsidi moneter untuk mengurangi hambatan bagi hawker muda yang bercita-cita tinggi. Sejak 2013, usia rata-rata untuk pendatang baru telah diturunkan menjadi 46, meskipun usia rata-rata keseluruhan untuk hawker secara nasional tetap 59.

Pihak berwenang di Singapura ini berusaha menarik anak muda untuk melanjutkan budaya ini agar budayanya bisa melakukan regenerasi. Cara ini dilakukan untuk menjaga budaya hawker di Singapura tetap ada dan berlangsung lama.

Baca Juga: Bangga! Telur Asin Jadi Warisan Budaya Takbenda



Simak Video "Netizen Indonesia Kecam Menu Nasi Padang Modifikasi Restoran Singapura"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com