Nasi Kapau Sudah Disajikan Sejak Masa Kolonial

Devi Setya - detikFood Jumat, 23 Okt 2020 17:30 WIB
Nasi Kapau Sudah Disajikan Sejak Masa Kolonial Foto: Aksara Pangan/ instagram @renoandamsuri
Jakarta -

Nasi kapau dinikmati turun menurun oleh masyarakat Minang, khususnya dari Nagari Kapau. Tradisi warung nasi kapau sudah ada sejak masa kolonial.

Meski sekilas tampak sama, warung nasi kapau dan warung nasi Padang sebenarnya memiliki perbedaan. Nasi kapau sudah jadi legenda kuliner kebanggaan masyarakat di Nagari Kapau, sebutan untuk kampung kapau di Sumatera Barat.

Fadly Rahman, sejarahwan kuliner Indonesia menjelaskan kalau warung nasi kapau sudah ada di Pasar Payakumbuh pada tahun 1911. Warung yang lokasinya berada cukup jauh dari Nagari Kapau ini membuktikan kalau sejak masa lampau pun masyarakat Sumatera Barat sudah mengenal nasi kapau.

Nasi Kapau Sudah Disajikan Sejak Masa KolonialNasi Kapau Sudah Disajikan Sejak Masa Kolonial Foto: Aksara Pangan/ instagram @renoandamsuri

Dalam siaran webinar bersama Aksara Pangan (22/10) Fadly menjelaskan soal potret warung nasi kapau yang diabadikan pada di tahun 1911 ini. "Seperti yang kita lihat lapau nasi kapau di zaman kolonial ini sama seperti yang bisa kita temui di Nagari Kapau. Yakni dihamparkan di meja, kemudian masyarakat makan berguyub bersama. Pedagang dan penikmat makanan juga saling berinteraksi," kata Fadly.

Fadly juga menjelaskan lapau nasi kapau yang berbeda dengan warung nasi Padang. Menurutnya warung nasi Padang umumnya menggunakan etalase, kemudian penempatan makanannya bertingkat.

Jauhnya jarak dari Nagari Kapau menuju pasar Payakumbuh juga menjadi cerminan untuk melepas kerinduan antara penjual dan pembeli. Sebab pada masa itu berjualan nasi kapau hanya dilakukan saat Hari Balai yang digelar satu kali dalam seminggu.

Seiring perkembangan zaman, lapau nasi kapau semakin menjamur baik di Nagari Kapau maupun di berbagai daerah lainnya. Beberapa kios nasi kapau bisa ditemui dengan mudah di pasar Los Lambuang, pasar Ateh, Bukittinggi.


Di pasar yang berada di lereng Bukittinggi ini banyak tersebar warung nasi kapau. Menurut Reno Andam Suri, hampir seluruh warung menampilkan nama uni peracik dan pemilik warung makan.

"Hampir seluruhnya pakai nama uni, Uni Pit, Uni Lis. Dan ciri khas lainnya bangunannya berwarna biru, warna kebanggaan masyarakat Bukittinggi," ujar Uni Reno, putri asli Minang yang juga seorang penulis buku Rendang Traveler.

Uni Reno menjelaskan, di kalangan masyarakat Kapau ada peraturan tidak tertulis soal penggunaan label 'kapau' pada warung makan. Warung yang boleh menuliskan nasi kapau hanya yang dimiliki oleh orang asli Nagari Kapau.

"Tidak tahu kalau di sini, atau di daerah lain, warung nasi kapau itu apakah memang punya orang Nagari Kapau atau bukan. Tapi kalau di Sumatera Barat seperti itu," kata Uni Reno.

Nasi Kapau Sudah Disajikan Sejak Masa KolonialNasi Kapau Sudah Disajikan Sejak Masa Kolonial Foto: Aksara Pangan/ instagram @renoandamsuri

Dengan aturan ini, masyarakat bisa membedakan sekaligus memilih warung yang akan menjadi tempat bersantap. Aturan ini sekaligus menjadi jaminan keaslian rasa masakan di lapau nasi kapau yang sudah dijaga dan dilestarikan secara turun temurun.

Uni Reno menyebutkan cara mudah membedakan lapau nasi kapau yang asli. Ada beberapa menu khas yang wajib tersaji di lapau nasi kapau.

Ada lima lauk khas Kapau yakni gulai tambusu, rendang daka-daka, ikan mas bertelur, dendeng kering balado dan gulai kapau. Kalau ada lima menu ini terhidang, maka bisa dipastikan warung makan ini asli dari Nagari Kapau.



Simak Video "Street Food Kramat, Surganya Nasi Kapau di Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)