Renyah Gurih Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar

Imam Suripto - detikFood Rabu, 02 Sep 2020 13:00 WIB
Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom
Brebes -

Camilan mirip emping dengan rasa renyah gurih ini mudah didapat saat kemarau. Umbi rumput rawa liar ini dikenal dengan nama tike.

Warga pesisir utara Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memanfaatkan masa paceklik selama kemarau mencari umbi rumput rawa liar. Umbi rumput ini diolah menjadi makanan ringan yang bentuknya emping biji melinjo.

Warga menyebut rumput rawa ini dengan nama tike. Pada saat musim basah atau musim hujan, tanaman ini tumbuh subur di rawa rawa. Namun saat kemarau, tanaman ini akan mengering pada bagian daun dan menyisakan umbi yang berada di kedalaman 15 sampai 20 cm di bawah tanah.

Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa LiarTike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom

Umbi rumput ini berukuran sebesar kelereng dan berwarna hitam kecoklatan. Umbi ini lah yang dicari warga untuk diolah menjadi camilan gurih renyah yang memiliki nilai jual tinggi.

Salah satu desa di Kecamatan Tanjung yang warganya banyak beralih profesi sebagai pencari tike adalah Desa Tengguli. Pekerjaan warga Desa Tengguli ini sebenarnya adalah buruh tani. Namun saat musim kemarau, saat tidak ada garapan di sawah, mereka beralih menjadi perajin emping tike.

Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa LiarTike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom

Setiap hari secara berkelompok mereka mendatangi rawa rawa kering untuk mengangkat umbi dari dalam tanah. Peralatan yang digunakan cukup sederhana, hanya menggunakan cangkul dan kayu.

Warto (40) warga Desa Tengguli menjelaskan, pekerjaan mencari tike ini digeluti selama musim kemarau saat tidak ada pekerjaan menggarap sawah. Tidak hanya kawasan Tanjung, Warto dan warga lain juga sering mencari tike sampai ke luar kecamatan.

"Kalau tidak ada garapan sawah ya cari tike. Kadang mencarinya sampai ke Brebes naik mobil atau motor. Hasilnya cukup lah buat beli beras," tutur Warto disela kesibukannya menggali tanah di Desa Tengguli, Selasa (1/9/2020) siang.

Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa LiarTike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom

Tidak hanya laki laki, pekerjaan mencari tike ini juga dilakukan oleh kaum ibu. Mereka membaur bersama warga lain mengais umbi tike dari dalam tanah.

Rahayu (29) yang juga warga Desa Tengguli menyebutkan, mencari tike bisa dijadikan alternatif saat tidak ada pekerjaan merogol bawang merah. Menurut Rahayu, pekerjaan ini sudah dilakoni sejak dua minggu lalu.

"Saya sih ikut ikutan saja. Baru dua minggunan nyari tike. Kalau kesehariannya sih saya kerja merogol bawang merah," terang Rahayu.

Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa LiarTike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom

Umbi rumput yang telah diambil dari tanah, kemudian dibersihkan dari semua kotoran, termasuk sisa sisa akar rumput. Setelah bersih, umbi ini disangrai hingga layu dan agak kering. Proses selanjutnya umbi mungil itu ditumbuk atau dipipihkan hingga tipis lebar mirip emping. Proses ini menggunakan alat sederhana, yakni batu sebagai alas dan tingkat besi atau kayu untuk menumbuk.

Umbi yang sudah pipih ini dijemur selama sehari untuk mengurangi kandungan airnya. Selanjutnya emping pun siap digoreng dan disantap.

Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa LiarTike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom

Proses pembuatan makanan ini tidak menggunakan bahan campuran. Rasanya agak manis dan bila suka rasa asin bisa ditaburi sedikit garam usai digoreng. Sensasi rasa unik inilah yang menjadikan tike banyak digemari orang.

"Rasanya unik dan tidak membosankan. Beda sama emping melinjo, ini rasanya agak manis," ucap Wahyudi (39) salah seorang pembeli tike, warga Dukuh Sontal.

Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa LiarTike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom

Emping tike ini dijual dalam bentuk basah dan kering. Harga emping tike basah dijual ke pengepul Rp 75 ribu per kilogram, sedangkan yang kering Rp 150 ribu per kilogram.

Emping setengah jadi ini kemudian digoreng dengan minyak panas dan dikemas dengan plastik. Harga tike matang bervariasi tergantung besar kecil kemasannya. Kemasan kecil dijual ke konsumen Rp 5.000 sedangkan kemasan sedang Rp 12 ribu.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Tengguli, Agung Aqil Aghniya mengatakan, mencari tike ini merupakan pekerjaan alternatif bagi warga selama kemarau. Mereka pada umumnya merupakan buruh tani.

Tike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa LiarTike, Camilan Kemarau dari Umbi Rumput Rawa Liar Foto: Imam Suripto/dok. detikcom

"Ini memang menjadi alternatif penghasilan tambahan. Saat tidak bisa bercocok tanam, para pekerjanya mencari tike. Ini jenis rumput rawa yang umbinya bisa dijadikan makanan," kata Kades.

Meski berasal dari rumput, kata Kades Tengguli, makanan ini banyak digemari. Sensasi rasa gurih renyah yang unik inilah yang menjadikan tike memiliki nilai jual tinggi.



Simak Video "Bikin Laper: All You Can It Sabu-sabu Kuah Tomyam di Serpong"
[Gambas:Video 20detik]
(adr/odi)