Jenang Mubarok, Dodol Khas Kudus Dikenal Sejak 110 Tahun Lalu

Sonia Basoni - detikFood Jumat, 10 Jul 2020 10:30 WIB
jenang kudus Foto: Istimewa
Kudus -

Berawal dari camilan keluarga, Jenang Mubarok kini jadi salah satu produsen dodol Kudus legendaris sejak 110 tahun lalu.

Jalan-jalan ke kota Kudus di Jawa Tengah, rasanya tak lengkap jika tidak mencicipi jenang yaitu dodol manis khas sana. Bahkan kini tersedia museum menarik yang mengulas tentang sejarah jenang di kota Kudus.

Baca Juga: Ke Kudus, Jangan Lupa Beli Jenang dan Mampir ke Museumnya Ya!

Lewat sesi Instagram Live #Ngintipkuliner yang digagas oleh pakar kuliner William Wongso, beliau mengajak orang-orang untuk mengenal lebih jauh tentang jenang Kudus dari rumah.

Jenang Mubarok KudusJenang Mubarok Kudus Foto: Instagram Jenang Mubarok

Bersama akun @kangenmasakanrumah, di sesi Instagram Live ini mereka berkunjung ke pabrik jenang punya Jenang Mubarok Kudus.

"Jenang itu sejenis dodol yang dibuat dari tepung ketan dengan gula lalu dimasak. Kali ini kita mau melihat proses pembuatan jenang dari Jenang Mubarok Kudus," jelas William.

Jenang Mubarok sendiri sudah eksis sejak tahun 110 tahun. Kini produsen jenang legendaris itu dijalani oleh generasi ketiga, tetap dengan menggunakan resep dan bahan-bahan tradisional.

"Jenang Mubarok Kudus sudah diekspor ke berbagai negara. Selain mengolah jenang, kami juga mendirikan museum jenang dari tahun 2017 lalu. Tujuannya untuk melestarikan jenang serta budaya dan sejarah di Kudus," jelas Kirom, selaku salah satu perwakilan dari Jenang Mubarok.

Jenang Mubarok KudusJenang Mubarok Kudus Foto: Instagram Jenang Mubarok

Berbeda dengan jenang lainnya, jenang buatan Mubarok sudah berskala besar. Di tengah pandemi ini mereka menerapkan protokol kesehatan.

"Kami ini dulu hanya UKM kecil tapi sekarang luar biasa. Untuk bahan utamanya kami menggunakan tepung beras ketan, kelapa dan nira tebu untuk gulanya. Selain itu semua jenang masih dimasak menggunakan kayu bakar selama lima jam," lanjut Kirom.

Bukan tanpa alasan mengapa pabrik Jenang Mubarok masih menggunakan kayu bakar. Selama tiga generasi memang ada sedikit peribahan. Seperti penggunaan mesin di generasi ketiga. Namun mereka masih menggunakan kayu bakar sebagai sumber panasnya.

Jenang Mubarok KudusJenang Mubarok Kudus Foto: Instagram Jenang Mubarok

"Jadi jenang cara mengolahnya ada beberapa tahapan. Dari pemanasan gula, santan kelapa dan tepung beras ketan. Lalu kayu bakar dipilih karena membuat kami lebih mudah mengontrolnya," ungkap Kirom.

Selain itu kayu bakar juga memiliki suhu panas yang lebih merata. Sementara jika menggunakan panas dari kompor suhunya hanya terpaku pada satu titik, sehingga risiko adonan jenang yang gosong lebih tinggi.

"Setelah adonan dimasak selama 5 jam, baru dimasukkan ke ruangan khusus. Setiap wajan bisa menampung 40 kg adonan. Di sana adonan didiamkan selama sehari penuh. Tujuannya agar ketika dikemas, jenang tidak berembun dan lebih tahan lama tak mudah basi," sambung Kirom.

Ketika ditanya perbedaan antara jenang dan dodol, Kirom menjawab bahwa secara keseluruhan komposisi bahan yang digunakan cukup sama. Perbedaannya hanya terletak pada tekstur.

Jenang cenderung lebih lembut dan sedikit basah karena menggunakan lemak nabati. Sementara dodol teksturnya lebih kering karena menggunakan lemak hewani.

Jenang Mubarok KudusJenang Mubarok Kudus Foto: Instagram Jenang Mubarok

"Menurut sejarah turun temurun, jenang ini merupakan makanan para raja di Kudus sejak dulu. Setiap satu Muharam ada namanya acara Kirab Jenang. Jadi sampai sekarang diyakini bahwa jenang ini memang makanan asli dari tanah Kudus. Serta tidak memiliki pengaruh dari kuliner lain," pungkas Kirom.

Kini Jenang Mubarok rasanya ada bermacam-macam, mulai dari cappuccino, moka hingga durian. Semua varian ini bisa dibeli langsung di toko online dan di situs resmi Jenang Mubarok.

Baca Juga: Pulang Kampung ke Jawa Tengah Bisa Jajan Jenang hingga Brem Enak



Simak Video "Es Timun Suri Cincau, Segar dan Manis untuk Buka Puasa"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/odi)