Cobek Dipakai Sebagai Alat Masak Sejak Zaman Batu dan Kini Masih Eksis

Devi Setya - detikFood Senin, 15 Jun 2020 14:00 WIB
cobek Foto: iStock
Jakarta -

Cobek dan ulekan seolah jadi alat masak yang umum ada di dapur orang Indonesia. Meski sudah banyak alat modern, cobek masih eksis padahal sudah dipakai sejak zaman batu.

Cobek dan ulekan termasuk pasangan alat masak kuno yang sudah dipakai oleh manusia purba sejak 35.000 tahun sebelum masehi. Uniknya, alat untuk menghaluskan atau menggerus bahan makanan ini masih eksis hingga sekarang. Cobek dan ulekan terbukti jadi alat masak yang tak punah karena termakan zaman.

Di Indonesia, cobek dan ulekan populer dijadikan alat untuk menghaluskan bumbu atau mengulek sambal. Proses menghaluskan bumbu dengan cara seperti ini diklaim bisa membuat rasa masakan jadi lebih enak dan sedap. Tak heran kalau dapur kuliner Indonesia masih tetap melestarikan alat ini dan enggan beralih ke alat penghalus modern.

Mau tahu soal sejarah cobek dan ulekan? Berikut penjelasan soal perjalanan cobek dan ulekan yang masih diandalkan para ibu di dapur rumahnya.

1. Sejarah cobek dan ulekan

cobekcobek Foto: iStock


Istilah cobek merujuk pada alat berbentuk mangkuk sebagai alas untuk menumbuk atau mengulek. Sementara ulekan biasa disebut untuk menunjuk benda tumpul memanjang seperti pentungan yang dapat digenggam tangan untuk menumbuk atau mengulek bahan. Cobek dan ulekan merupakan satu paket yang tak bisa dipisahkan.

Dari penemuan yang sudah ada, cobek dan ulekan tertua ternyata sudah digunakan sejak 35.000 tahun sebelum masehi. Saat itu, cobek dan ulekan yang ditemukan masih berbentuk batu datar, bukan berbentuk mangkuk seperti saat ini.

Temuan ini sekaligus membuktikan kalau cobek dan ulekan merupakan alat tertua yang digunakan sejak zaman batu. Para arkeolog mengungkap kalau artefak cobek dan ulekan kuno ini dijadikan alat untuk menumbuk. Salah satu artefak batu yang ditemukan di Yunani pada kurun waktu 3200 sampai 2800 tahun sebelum masehi, cobek digunakan untuk menumbuk bahan alam yang mengandung pignen zat pewarna.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Bikin Laper: Kerang Kampak Bakar Keju di Alam Sutera"
[Gambas:Video 20detik]