Dampak 'Panic Buying', Anak Berkebutuhan Khusus Sulit Dapat Makanan

Riska Fitria - detikFood Kamis, 19 Mar 2020 16:02 WIB
Panic buying... as shoppers going round for their daily essentials at local supermarket in Bayan Baru, Penang.

Starpic By: ZAINUDIN AHAD/The Star / 11 Mac 202 Foto: The Star/SYSTEM
Jakarta -

Panic buying yang disebabkan karena kekhawatiran akan virus corona membuat seorang bocah berkebutuhan khusus kesulitan dapatkan makanan.

Panic buying adalah gejala sosial dimana masyarakat memborong semua keperluan rumah tangga dalam keadaan darurat. Fenomena tersebut belakangan ini sering terjadi di seluruh dunia karena kekhawatiran masyarakat akan virus corona.

Keperluan rumah tangga seperti bahan makanan nantinya akan digunakan untuk bertahan hidup selama berada di dalam rumah dalam waktu yang tidak ditentukan. Namun, seharunya panic buying tidak harus dilakukan, karena akan memberikan dampak negatif dalam segala aspek.

Seperti bahan makanan menjadi langka, harga menjadi tinggi dan membuat seseorang yang benar-benar membutuhkan bahan makanan tersebut menjadi kesulitan. Seperti yang dialami oleh Ibu di Skotlandia ini.

Dampak 'Panic Buying', Anak Berkebutuhan Khusus Sulit Dapat MakananFoto: The Star/SYSTEM


Ibu bernama Danielle Haynes memiliki putra yang berusia 6 tahun yang menderita autisme non-verbal. Bocah bernama Emmett tersebut hanya bisa memakan makanan tertentu seperti pizza dan sosis frozen. Sayangnya, belakangan ini Daneille merasa kesulitan mendapatkan makanan itu untuk anaknya.

Ia sudah pergi ke supermarket setempat untuk mendapatkan pizza dan sosis frozen yang biasa dan tampak rak-rak yang justru benar-benar kosong. Itu disebabkan karena panic buying yang terjadi karena virus corona.

Baca Juga : Dampak Virus Corona, Makanan Jepang Berusia 1.000 Tahun Populer Lagi


"Saya tidak bisa mempercayai mata saya. Hampir tidak ada yang tersesisa di rak mana pun," ujar Daniella seperti yang dikutip dari Daily Record (18/03).

Awalnya ia hanya melihat rak-rak supermarket yang kosong pada bagian makanan sepersi beras, susu, makanan instan lainnya. Namun, ketika ia menyusuri rak tempat di mana pizza dan sosis frozen berada, ia baru panik begitu tak ada satu pun yang tersisa.

"Saya tahu orang-orang mungkin tidak sepenuhnya memahami bagaimana rasanya memiliki anak yang menderita autisme, tetapi ketika mereka memborong semua makanan, apakah makanan itu benar-benar dimakan atau hanya sia-sia. Lantas apa yang bisa aku berikan kepada anakku?," ujar Daneilla.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dirinya terus mencari alternatif yang mungkin bisa dicoba. Namun, di tempat makanpun pizza dan sosis frozen untuk anaknya benar-benar sudah habis.

Beruntung, dari kisah Daneilla ini kemudian banyak orang yang menjadi relawan dengan memberikan pizza dan sosis frozen tersebut. Bahkan ia sampai kewalahan, karena bantuan yang datang sangat banyak. Ada sekitar 24 paket pizza dan 60 sosis dari tindakam sukarelawan.

Dampak 'Panic Buying', Anak Berkebutuhan Khusus Sulit Dapat MakananFoto: The Star/SYSTEM


"Luar biasa, saya tidak perlu khawair sekarang tenang apa yang harus Emmett makan, tetapi pada saat yang sama, saya akhirnya menjadi penimbun makanan secara tidak sengaja. Saya hanya berharap orang akan lebih masuk akal," tutur Daniella.

Atas pengalamannya itu, Daniella kini memohon untuk kepada semua masyarakat untuk menghentikan panic uying dan benar-benar memikirkan dampaknya pada anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti Emmett.

"Saya berusaha untuk tidak menghakimi karena saya tahu orang-orang hanya takut dengan apa yang terjadi dan mereka hanya berusaha menjaga keluarga mereka, sama seperti saya, tetapi kita perlu memikirkan semua orang," tutur Daniella.

Baca Juga : Dampak Virus Corona, Harga Nangka Muda Lebih Mahal Dari Ayam



Simak Video "Kangen dengan Pecel Sayur di Pasar Baru?"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)