5 Mitos Tentang Fast Food yang Masih Banyak Dipercaya Orang

Milla Kurniaputri - detikFood Kamis, 20 Jun 2019 11:21 WIB
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Fast food seringkali diklaim sebagai makanan tidak sehat, padahal faktanya tak sepenuhnya benar. Berikut 5 mitos tentang fast food yang mungkin Anda percayai.

Sebagian orang masih punya pikiran negatif terhadap fast food dan hal tersebut sedikit banyak dipengaruhi oleh mitos yang beredar di masyarakat. Mulai dari mitos soal kebersihan, bahan-bahan yang digunakan, hingga dampak konsumsinya.

Seperti yang dikutip dari laman The Washington Post, inilah 5 mitos tentang fast food yang masih sering di percayai orang.

Baca Juga: Terungkap! Ini Rahasia Dibalik Ayam Goreng KFC yang Renyah Gurih

1. Penggemar fast food berpenghasilan rendah

5 Mitos Tentang Fast Food yang Masih Banyak Dipercaya OrangFoto: Istock

Selama beberapa dekade, dunia fast food yang murah telah dikaitkan dengan kelas bawah di Amerika Serikat. Kebijaksanaan konvensional yang ditulis Mark Bittman di New York Times pada tahun 2011, adalah "junk food lebih murah jika diukur dari kalori, dan ini membuat makanan cepat saji baik bagi orang miskin karena mereka membutuhkan kalori."

Dengan persepsi ini, Dewan Kota Los Angeles pada 2008 melarang restoran cepat saji baru di Los Angeles Selatan, yang termasuk salah satu daerah termiskin di kota itu, dalam upaya untuk menghasilkan makanan yang lebih sehat.

Tetapi daya tarik makanan fast food sangat meningkat. Studi dan survei menunjukkan bahwa fast food paling populer di antara golongan berpenghasilan menengah ke atas, karena lebih mungkin memakannya setidaknya setiap minggu (51%) daripada kelompok berpenghasilan rendah, data ini menurut sebuah survei Gallup tahun 2013.

2. Slow food lebih sehat dibandingkan makanan fast food

5 Mitos Tentang Fast Food yang Masih Banyak Dipercaya OrangFoto: Istock

Selama beberapa tahun, wabah penyakit bawaan makanan diberitakan karena akibat dari makanan fast food. Kemudian restoran slow food seperti Chipotle, menjanjikan akan menyajikan makanan yang sehat dan berintegritas, dengan bahan-bahan bebas GMO.

Padahal ternyata mitos ini tidak benar, pada 2015, New York Times mengungkapkan bahwa "Makanan di Chipotle memiliki sekitar 1.070 kalori," lebih dari setengah kalori harian yang baik dikonsumsi untuk kebanyakan orang dewasa.

Kemudian, para peneliti di University of South Carolina membandingkan makanan pembuka dari 60 restoran slow food dengan restoran fast food, dan mereka menemukan bahwa restoran slow food rata-rata memiliki 200 kalori lebih banyak dari makanan fast food.

3. Gugatan tentang kopi di McDonald's

5 Mitos Tentang Fast Food yang Masih Banyak Dipercaya OrangFoto: Istimewa

Pada tahun 1992, seorang pensiunan berusia 79 tahun bernama Stella Liebeck menumpahkan secangkir kopi McDonald's ke dirinya sambil duduk di kursi penumpang mobil yang sedang diparkir. Setelah juri New Mexico memberi ganti rugi, kasus tersebut menjadi viral.

Dalam siaran berita, dilaporkan bahwa kopi yang diminum Liebeck tumpah saat mengemudi akibat tidak hati-hati di jalan. Dia diejek sebagai pelakunya,

Padahal Liebeck benar-benar menderita, 16 persen dari tubuhnya terbakar, termasuk 6 persen dengan luka bakar, dan luka-lukanya memerlukan untuk dirawat di rumah sakit selama delapan hari. Liebeck mengajukan klaim sebesar $ 20.000 atau sekitar Rp 280 juta untuk membayar tagihan medisnya dan menyalahkan McDonald ke pengadilan.

Semuanya adalah keputusan hakim, dan setara dengan dua hari penjualan kopi McDonald's pada saat itu, kemudian hakim menguranginya. Akhirnya, kedua pihak berdamai di luar pengadilan.

4. Makanan fast food menyebabkan obesitas

5 Mitos Tentang Fast Food yang Masih Banyak Dipercaya OrangFoto: This Is Insider

Para peneliti dapat memberikan penjelasan dengan menghubungkan obesitas dengan kecenderungan manusia dalam memakan fast food. Karena dikenal dari bahan dan cara pembuatan fast food, maka fast food dikenal sebagai penyebab utama obesitas.

Padahal obesitas biasa terjadi karena faktor seperti olahraga, kebiasaan merokok, kualitas udara, genetika dan akses ke perawatan kesehatan.

5. Karyawan fast food lebih banyak anak remaja

5 Mitos Tentang Fast Food yang Masih Banyak Dipercaya OrangFoto: Istimewa

Pada tahun 1960-an dan 1980-an, karyawan restoran fast food adalah remaja yang bekerja sepulang sekolah untuk mendapatkan uang jajan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, persepsi ini telah berubah menjadi titik pembicaraan.

Menurut data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja, usia rata-rata karyawan makanan fast food baru berusia di atas 26 tahun.

Sejak tahun 2000, lebih banyak remaja yang memilih bermain daripada bekerja, dengan tingkat partisipasi tenaga kerja di antara 16 ke 19 tahun, menurun dari 50 persen menjadi 34 persen.

Faktanya, McDonald's baru-baru ini bergabung dengan perusahaan seperti Google dan Macy dalam bermitra dengan AARP untuk merekrut pensiunan dan karyawan yang lebih tua.

Baca Juga: Restoran Cepat Saji Terbukti Lima Kali Lebih Bersih dari Restoran Berkelas

(lus/lus)