Kisah 'Pahlawan' yang Coba Kurangi Ratusan Ribu Ton Limbah Makanan

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Jumat, 14 Jun 2019 11:15 WIB
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Limbah makanan masih jadi masalah di Singapura. Dua sosok ini disebut pahlawan makanan karena mencegah makanan sisa dan kedaluwarsa terbuang sia-sia.

Pertama, ada Gary Lee yang rutin dua kali seminggu menyambangi tempat penitipan anak. Tujuan pria 36 tahun ini bukan mengantarkan anaknya, tapi mengumpulkan makanan sisa yang biasanya langsung dibuang.

Lee bisa mengumpulkan 2 kontainer beras, beberapa sup sayuran, dan sekotak ikan cod iris dengan saus gravy. Menurut Lee yang sebenarnya punya gaji cukup, makanan tersebut bisa memenuhi kebutuhan makan keluarganya yang beranggotakan 5 orang selama 3 hari.

Kisah 'Pahlawan' yang Coba Kurangi Ratusan Ribu Ton Limbah Makanan Foto: Istimewa

Lee sendiri tergabung dalam komunitas yang fokus mengurangi limbah makanan di Singapura. Seperti diketahui, tahun 2018 Singapura menghasilkan lebih dari 763.000 ton limbah makanan. Jumlah ini meningkat 34 persen dari tahun 2008. Sementara angka daur ulang masih terbilang rendah, tak lebih dari 17 persen.

Masalah limbah makanan pun menjadi fokus banyak komunitas di Singapura. Mereka mengurangi limbah makanan dengan caranya masing-masing. Pada kasus Lee, ia membagikan makanan sisa dari tempat penitipan anak ke komunitas Food Rescue Singapore.

Baca Juga: Pria Ini Sengaja Konsumsi Makanan Kedaluwarsa Selama Setahun

Dikutip dari South China Morning Post (14/6), komunitas ini biasanya berkomunikasi via Telegram. Anggotanya mengumpulkan makanan sisa dari tempat-tempat makan hingga acara besar yang menyediakan makanan.

Salah satu contohnya, Food Rescue Singapore pernah 'menyelamatkan' banyak sandwich, lumpia, pizza, dan chicken wings panggang dari buffet halal yang disajikan dalam acara sebuah perusahaan. Nantinya perwakilan Food Rescue Singapore akan mengunggah informasi pada orang-orang dimana mereka bisa mengambil makanan sisa itu. Syaratnya hanya satu, bawa wadah makanan masing-masing.

Kisah 'Pahlawan' yang Coba Kurangi Ratusan Ribu Ton Limbah Makanan Foto: Istimewa

Food Rescue Singapore terus berkembang sejak didirikan tahun 2017. Sekarang anggotanya di grup Telegram mencapai 2.540. Pendirinya, Den Teo mengatakan dia sering melihat makanan katering di konferensi, acara dan pernikahan menjadi sia-sia.

Pengumpulan makanan sisa menghadapi tantangan terutama soal jumlah yang tak menentu. Jenisnya juga beragam sehingga butuh trik dalam mendistribusikannya. Contoh saat mereka hanya mendapat sisa nasi matang, para relawan Food Rescue Singapore akan menambahkan telur, sayuran, dan daging sebelum membagikannya pada pekerja konstruksi migran.

Kedua, ada Daniel Tay yang fokus menyelamatkan kelebihan stok buah dan sayur, terutama yang bentuknya tidak diinginkan. Pria 41 tahun ini menjalankan SG Food Rescue yang tahun lalu berhasil mengumpulkan lebih dari 100.000 kg buah dan sayur yang kerap berakhir jadi limbah makanan.

Kisah 'Pahlawan' yang Coba Kurangi Ratusan Ribu Ton Limbah Makanan Foto: Istimewa

"Ini hanyalah pucuk gunung es. Kami hanya mengurusi buah dan sayur, tapi ada banyak kategori limbah makanan seperti daging, makanan kemasan, makanan yang sudah lewat kedaluwarsa, sampai makanan yang dekat tanggal kedaluwarsa," kata Tay.

Meski begitu kini gerakan SG Food Rescue meluas dimana para anggotanya mulai saling bertukar makanan. Seperti makanan yang sudah setengah terbuka atau yang kedaluwarsa.

Kisah 'Pahlawan' yang Coba Kurangi Ratusan Ribu Ton Limbah Makanan Foto: Istimewa

Lewat Facebook, anggota SG Food Rescue banyak yang memberikan sereal, oat instan, cokelat, baked beans, hingga susu evaporasi secara cuma-cuma. Walau beberapa produk sudah kedaluwarsa, banyak orang masih mengambilnya.

Tay pun menjelaskan makanan yang sudah lewat tanggal kedaluwarsa bukan berarti tak bisa dimakan. Makanan ini masih aman dikonsumsi. "Ini adalah hal paling mendasar yang bisa dilakukan seseorang soal limbah makanan. Anda bisa coba memberikan sesuatu yang tidak Anda inginkan sebelum Anda membuangnya," pungkas Tay.

Baca Juga: Selain Tanggal Kedaluwarsa, 7 Hal Ini Bisa Dipakai untuk Cek Kualitas Makanan

(adr/odi)